Pemeriksaan Polisi Terhadap Manajemen Taksi Green SM dan Ditjen KA Terkait Kecelakaan Kereta Bekasi

Berita5 Dilihat

DermayuMagz.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya menjadwalkan pemeriksaan terhadap berbagai pihak terkait insiden kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur. Pihak yang akan diperiksa meliputi manajemen Taksi Green SM, Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi, Dinas Tata Ruang Kota Bekasi, serta Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendalami penyebab kecelakaan yang merenggut 16 nyawa dan menyebabkan 90 orang lainnya terluka. Jadwal awal pemeriksaan yang seharusnya dilaksanakan pada Senin (4/5/2026) ditunda menjadi Selasa (5/5/2026).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengonfirmasi penundaan tersebut kepada wartawan. Sejauh ini, pihak kepolisian telah berhasil memeriksa 31 orang sebagai saksi dalam kasus ini.

Perwakilan dari Dinas Bina Marga Kota Bekasi, Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi, dan Dinas Tata Ruang Kota Bekasi telah memenuhi panggilan pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Sementara itu, pengemudi taksi Green SM serta saksi penjaga palang pintu menjalani pemeriksaan di Polres Metro Bekasi Kota.

Kasus ini telah dinaikkan ke tahap penyidikan dan kini ditangani oleh Subdirektorat Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Polisi berupaya mengungkap akar permasalahan dari tragedi ini.

POLISI DALAMI DUGAAN HUMAN ERROR HINGGA KENDALA SISTEM

Kronologi kejadian bermula ketika sebuah taksi listrik Green SM mengalami gangguan teknis pada sistem kelistrikannya dan terhenti di pelintasan sebidang JPL 85 Jalan Ampera, Bekasi Timur. Tak lama kemudian, taksi tersebut ditabrak oleh KRL nomor KA PLB 5181 yang melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta.

Akibat tabrakan tersebut, KRL PLB 5181 berhenti di tengah rel. Situasi ini kemudian menyebabkan KRL lainnya, yakni KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang dengan nomor PLB 5568A, tertahan di Stasiun Bekasi Timur.

Kondisi yang semakin memburuk terjadi ketika KA Argo Bromo Anggrek nomor KA PLB 4B, yang melaju dari Jakarta menuju Surabaya, menabrak KRL PLB 5568A yang sedang berhenti akibat insiden sebelumnya.

Penyidik kepolisian telah melakukan berbagai langkah untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan ini. Tindakan yang dilakukan meliputi pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP), pengumpulan barang bukti, penelusuran rekaman CCTV, koordinasi dengan rumah sakit terkait penanganan korban, permintaan visum, serta pemeriksaan saksi dan pihak-pihak terkait.

Pihak kepolisian masih mendalami apakah kecelakaan ini disebabkan oleh kelalaian manusia (human error) atau adanya kendala pada sistem komunikasi operasional perkeretaapian. “Kami akan dalami apakah ini terkait human error atau ada kendala sistem. Semua akan ditelusuri melalui pemeriksaan saksi, barang bukti, dan hasil olah TKP,” ujar Kombes Budi.

Baca juga: John Travolta dan Putrinya Kembali Beradu Akting

BAHAYA DI PERLINTASAN SEBIDANG

Insiden di Bekasi Timur menambah daftar panjang kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang di Indonesia. Perlintasan sebidang memang telah lama menjadi perhatian serius karena potensi bahayanya yang tinggi.

Sebelumnya, pada Jumat dini hari (1/5/2026), KA Argo Bromo Anggrek juga terlibat dalam kecelakaan setelah menabrak sebuah mobil minibus yang berisi sembilan orang di perlintasan sebidang Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kecelakaan tersebut menewaskan lima orang dan melukai empat lainnya.

Pada hari yang sama, terjadi kecelakaan kereta di jalur Brebes, Jawa Tengah, yang mengakibatkan satu remaja tewas dan dua lainnya luka-luka. Insiden tersebut terjadi ketika para remaja tersebut berada di atas rel kereta dan tidak sempat menghindar.

Selanjutnya, pada Sabtu (2/5/2026), tercatat tiga orang tewas tertemper kereta api di Cimahi dan Bandung Barat, Jawa Barat, saat hendak menyeberang rel.

Masalah bahaya di perlintasan sebidang ini menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto. Setelah mengunjungi para korban kecelakaan kereta di Bekasi pada Selasa pekan lalu, Presiden Prabowo berjanji untuk memperbaiki sekitar 1.800 perlintasan sebidang di Pulau Jawa. Perbaikan ini akan mencakup pembangunan flyover maupun pendirian pos jaga.

Presiden menyatakan bahwa perlintasan seperti ini sudah ada sejak zaman Belanda dan telah berlangsung puluhan tahun. “Kita akan selesaikan semua. Kita perhitungkan (butuh biaya) sekitar Rp4 triliun, demi keselamatan,” tegas Presiden Prabowo.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Baca juga:

  • DPR desak pemerintah berikan ‘trauma healing’ bagi korban kecelakaan kereta di Bekasi
  • Usai tabrakan maut, pakar desak pemisahan jalur kereta jarak jauh dan komuter