DermayuMagz.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Wali Kota Eri Cahyadi menargetkan wilayah Surabaya Selatan bebas dari genangan banjir pada November 2026. Strategi penanganan banjir yang komprehensif telah disiapkan untuk mencapai target tersebut.
Berbagai upaya konkret akan dilakukan, mencakup pembangunan rumah pompa baru, pengerukan drainase secara mendalam, hingga konstruksi storage air di titik-titik saluran yang memiliki keterbatasan ruang untuk pelebaran.
Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan optimisme bahwa pada tahun 2026, persoalan banjir di berbagai titik rawan di Surabaya Selatan akan teratasi sepenuhnya. “Ini adalah pembangunan yang akan dilakukan di tahun 2026. Karena itu nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir,” ujar Wali Kota Eri, Senin (4/5/2026).
Pemkot Surabaya berencana untuk membangun rumah pompa tambahan di beberapa lokasi strategis yang kerap menjadi langganan banjir. Dua lokasi yang menjadi prioritas adalah Panjang Jiwo dan Medokan Semampir, tepatnya di depan Gereja Bethany Nginden.
“Jadi nanti kita akan bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, satu di depannya Gereja Bethany Nginden. Karena setiap tahun (depan) Gereja Bethany, Nginden itu banjir. Jadi kita nanti akan bangun di sana di tahun ini,” jelasnya.
Pentingnya pemetaan aliran air menjadi sorotan utama dalam strategi penanganan banjir ini. Wali Kota Eri menekankan bahwa pemahaman mendalam mengenai arah aliran air, perubahan elevasi saluran, hingga penempatan rumah pompa yang tepat adalah kunci untuk mencapai hasil yang optimal.
“Makanya tadi saya mengajak teman-teman (lurah, camat, dan kepala dinas) untuk memastikan dan memahami, bahwa aliran air seperti ini, ada yang kita balik-aliran airnya, maka secara otomatis elevasinya harus tahu, terus rumah pompa – rumah pompanya di mana,” katanya.
Orang nomor satu di Surabaya ini sangat yakin bahwa titik-titik yang menjadi fokus penanganan akan terbebas dari genangan air pada November 2026. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi jangka pendek untuk mengatasi masalah genangan di wilayah Surabaya Selatan.
Baca juga: Mahyeldi: Peran Penting Rahmah El Yunusiyyah dalam Pendidikan
“Insyaallah bulan November, kalaupun terjadi hujan, maka titik-titik yang kita datangi tadi tidak terjadi lagi genangan di sana. Jadi jangka pendeknya dikerjakan tahun ini. Karena nanti tahun depan tidak boleh lagi (banjir) ada wilayah di sini. Kita pindah (tangani) wilayah lain,” terangnya.
Untuk kawasan Menanggal dan Gayung Kebonsari, Pemkot Surabaya akan menyesuaikan metode pembangunan dengan kondisi saluran yang ada. Jika anggaran untuk pembangunan box culvert belum mencukupi, tahap awal akan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP).
“Kalau box culvert nanti uangnya gak cukup, maka kita menggunakan CCSP, tahun depannya baru kita lakukan box culvert. Tapi pendalamannya (pengerukan) dilakukan tahun ini juga untuk (mengatur) elevasinya,” jelasnya.
Di lokasi lain, seperti saluran di Jalan Tenggilis Mejoyo yang mengarah ke Panjang Jiwo dan terhalang oleh jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), pelebaran saluran tidak memungkinkan. Sebagai solusi alternatif, Pemkot Surabaya akan membangun storage air di jalan tersebut.
“Fungsi storage itu adalah untuk pembagian air. Jadi kalau dilihat, ketika ada saluran, air itu kan menuju ke sungai besar (seperti) ke Kali Jagir, Kali Surabaya, atau ke rumah pompa,” paparnya.
Lebih lanjut, Wali Kota Eri mengidentifikasi perubahan fungsi lahan di Surabaya sebagai salah satu faktor yang memperparah persoalan genangan. Saat ini, sebagian besar aliran air hujan langsung masuk ke saluran irigasi karena minimnya area resapan akibat padatnya permukiman.
“Jadi dulu Surabaya (bangunan masih) sepi, semua aliran air dimasukkan ke irigasi. Jadi ketika semua resapan itu (saat ini) habis dengan rumah, maka tidak ada resapan air, langsung masuk ke irigasi semua air hujan,” pungkasnya.






