Minyak Mentah Tetap di Atas USD 112 Per Barel

Bisnis7 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga minyak dunia masih menunjukkan ketahanan di atas USD 112 per barel, menandakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global yang terus membayangi, meskipun ada perkembangan terbaru terkait potensi konflik dengan Iran.

Dalam perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent, sebagai tolok ukur internasional, mengalami kenaikan lebih dari 2 persen. Minyak jenis ini ditutup pada level USD 112,10 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Juni juga menunjukkan kenaikan signifikan, melonjak sekitar 3 persen dan ditutup di USD 108,66 per barel.

Kondisi ini terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat mengumumkan pembatalan rencana serangan terhadap Iran untuk sementara waktu.

Namun, dalam perdagangan lanjutan, harga minyak mulai menunjukkan sedikit penurunan. Brent sempat kembali diperdagangkan di bawah USD 110 per barel.

Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa ia membatalkan rencana serangan ke Iran yang sebelumnya dijadwalkan pada Selasa.

Keputusan tersebut dilaporkan diambil setelah adanya permintaan dari beberapa negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab. Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menjadi pihak yang menyampaikan permintaan tersebut.

Menurut Trump, para pemimpin negara-negara tersebut meyakini bahwa negosiasi serius dengan Iran sedang berlangsung. Mereka berpandangan bahwa negosiasi ini memiliki potensi untuk menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh Amerika Serikat.

Meskipun demikian, Donald Trump tidak lupa untuk menyampaikan peringatan yang keras kepada Iran.

Ia menyatakan bahwa dirinya telah memberikan instruksi kepada Pentagon untuk tetap dalam kesiapan penuh. Tujuannya adalah untuk melancarkan “serangan penuh berskala besar terhadap Iran dalam waktu singkat” jika kesepakatan yang diharapkan tidak kunjung tercapai.

Di sisi lain, ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih terasa intens.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran telah mengkonfirmasi bahwa pembicaraan antara kedua negara masih terus berlanjut. Pembicaraan ini dilakukan melalui perantaraan Pakistan.

Baik Washington maupun Teheran dilaporkan telah menyampaikan komentar terbaru mereka terkait proposal yang diajukan oleh Iran.

Namun, seorang pejabat senior Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya, menyatakan kepada Axios bahwa proposal Iran belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Proposal tersebut dinilai masih belum cukup untuk mencapai sebuah kesepakatan.

Sebelumnya, Trump juga sempat memberikan teguran kepada Iran. Ia mendesak agar Iran segera mengambil tindakan terkait perundingan damai.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada hari Minggu, Trump menuliskan pesan yang tegas. Ia menyatakan, “Bagi Iran, waktunya terus berjalan dan mereka harus bergerak cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka.”

Ia juga menekankan kembali pentingnya waktu dalam situasi ini dengan mengatakan, “waktu adalah hal yang sangat penting.”

Pernyataan Trump ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di pasar global mengenai pasokan minyak. Para analis secara konsisten menyoroti kondisi persediaan minyak dunia yang saat ini berada pada level yang sangat rendah.

Perlu diingat bahwa Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada bulan April lalu. Namun, ketegangan antara kedua negara tetap tinggi.

Hal ini disebabkan oleh Iran yang masih mempertahankan penutupan sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sementara itu, pemerintahan Trump terus melanjutkan kebijakan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebelum konflik ini memanas, sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati jalur Selat Hormuz yang strategis.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya telah memberikan peringatan. Laporan tersebut menyatakan bahwa persediaan minyak dunia terus menyusut dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Penyusutan ini terjadi akibat masih tertutupnya Selat Hormuz yang berdampak pada kelancaran distribusi energi.

IEA juga menambahkan bahwa cadangan minyak yang semakin menipis, ditambah dengan gangguan pasokan yang berkelanjutan, berpotensi memicu lonjakan harga minyak lebih tinggi lagi di masa mendatang.

Sementara itu, bank terkemuka asal Swiss, UBS, dalam laporannya pekan lalu memperkirakan bahwa persediaan minyak global bisa mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Hal ini diprediksi terjadi pada akhir Mei, dengan estimasi stok hanya sekitar 7,6 miliar barel, asalkan permintaan minyak tetap stabil.

Kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global diperkirakan akan semakin membesar seiring dengan semakin menipisnya stok cadangan energi yang ada.

Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Commodity Exchange, Jeff Currie, menyampaikan pandangannya bahwa kondisi saat ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi para pelaku industri energi.

“Semua orang yang benar-benar terlibat di bisnis ini mengatakan situasinya buruk,” ujar Currie kepada CNBC dalam program “Squawk Box Europe”.

“Iran ingin menimbulkan penderitaan. Yang penting saat ini bukan harga minyak, melainkan ketersediaan minyak,” tambahnya, menekankan urgensi ketersediaan pasokan.

Baca juga : Cadangan Devisa Bank Indonesia Tetap Kuat untuk Jaga Rupiah

Currie juga menambahkan bahwa meskipun saat ini belum terjadi kekurangan fisik minyak secara nyata, kondisi tersebut bisa mulai dirasakan di Eropa pada akhir bulan ini.