DermayuMagz.com – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menemukan sejumlah permasalahan terkait fasilitas dan layanan bagi jemaah haji Indonesia di Mina. Temuan ini mencakup kondisi tenda yang tidak layak, minimnya sanitasi, serta distribusi logistik dan layanan kesehatan yang terbatas.
Anggota Timwas Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia secara langsung mengamati bahwa fasilitas tenda, khususnya toilet, tidak memenuhi standar kenyamanan yang diharapkan.
Selly juga menyoroti bahwa tenda yang disediakan terasa sempit dan memaksa jemaah untuk berdempetan. Hal ini tentu mengurangi kenyamanan, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Lebih lanjut, masalah sanitasi air bersih menjadi sorotan utama. Ketersediaan air bersih dinilai belum memadai untuk memenuhi kebutuhan jemaah yang sangat bergantung pada air, terutama untuk keperluan ibadah seperti wudu.
Baca juga : Perluasan Layanan Penukaran Uang BRI di Lokasi Strategis
Selain persoalan sanitasi, distribusi logistik makanan juga dilaporkan bermasalah. Terdapat jemaah yang sudah berjam-jam berada di dalam tenda tanpa menerima pasokan makanan.
Akibatnya, kondisi kesehatan jemaah, khususnya lansia, menjadi menurun drastis. Hal ini menjadi perhatian serius bagi DPR RI.
Layanan kesehatan yang tersedia untuk menangani jemaah yang jatuh sakit juga dinilai masih sangat minim. Kekurangan fasilitas ini berpotensi memperburuk kondisi jemaah yang membutuhkan perawatan.
Menghadapi temuan ini, Selly memberikan catatan evaluasi penting untuk perbaikan di masa mendatang. Ia mengusulkan agar Kementerian Haji dan Umrah melakukan perhitungan ulang yang lebih realistis terkait kebutuhan jemaah.
Kebijakan yang lebih adaptif dan mempertimbangkan kondisi jemaah berisiko juga perlu diterapkan. Selly menyarankan agar jemaah yang berisiko tinggi tidak dipaksakan untuk mabit di Mina.
Sebagai alternatif, jemaah berisiko tersebut dapat dikembalikan ke hotel mereka di Makkah melalui skema tanazul. Skema ini bertujuan untuk meringankan beban jemaah dan memastikan mereka mendapatkan pelayanan yang lebih memadai.
“Kalau memang sekiranya ini menjadi masalah, kenapa jemaah tidak ditanazulkan saja sehingga tidak menjadi beban. Jangan sampai mereka terbebani, tidak mendapatkan makanan, sakit di dalam tenda, dan tidak mendapat fasilitas kesehatan yang layak,” tegas Selly.
Meskipun demikian, Selly tetap memberikan apresiasi terhadap peningkatan layanan ibadah haji secara keseluruhan pada tahun 2026. Ia mengakui bahwa layanan di Makkah dan Madinah menunjukkan perbaikan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, ia menegaskan bahwa permasalahan utama dan tantangan terbesar masih terletak pada kondisi pelayanan di Mina. Perhatian khusus perlu diberikan untuk mengatasi kendala di area tersebut.






