Jemaah Haji Indonesia Diminta Disiplin Beribadah Usai dari Tanah Suci

News4 Dilihat

DermayuMagz.com – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau para jemaah haji Indonesia untuk senantiasa menjaga kedisiplinan dalam beribadah, khususnya dalam melaksanakan salat lima waktu, setelah mereka kembali ke Tanah Air.

Pesan ini disampaikan oleh Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja (Daker) Bandara, Anis Dyah Puspita, saat mendampingi kepulangan jemaah Kelompok Terbang (Kloter) 12 YIA di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah pada Selasa, 17 Juni 2026.

Anis mengajak jemaah untuk melanjutkan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah terbentuk selama mereka berada di Tanah Suci. Ia secara khusus menekankan pentingnya menjaga salat lima waktu bagi jemaah yang sebelumnya mungkin belum konsisten melaksanakannya.

Pengalaman berhaji diharapkan dapat menjadi momentum perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal ibadah. “Yang belum terbiasa salat lima waktu, belum terjaga, setidaknya kita jaga. Sebenarnya kita selama di Tanah Suci dan wajib kita selalu menjaga salat lima waktu, syukur bisa berjamaah,” ujarnya kepada tim Media Center Haji di Madinah, Minggu (21/6/2026).

Lebih lanjut, Anis menjelaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah haji sejatinya mengajarkan nilai kedisiplinan. Hal ini terlihat dari pelaksanaan setiap rukun dan kewajiban haji yang dilakukan secara tertib dan teratur.

Nilai disiplin yang didapat selama menunaikan ibadah haji ini diharapkan dapat menjadi bekal dan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari setelah kembali ke masyarakat.

Selain kedisiplinan, Anis juga mengingatkan para jemaah untuk membawa pulang esensi kesetaraan yang sangat terasa saat pelaksanaan wukuf di Arafah. Di Padang Arafah, seluruh jemaah berkumpul dalam balutan pakaian ihram yang sama, tanpa ada perbedaan status sosial, jabatan, atau latar belakang lainnya.

Semua berdiri di hadapan Allah SWT dalam kesederhanaan yang sama. “Ketika di Arafah kita sudah diajarkan Allah SWT melalui lisan Rasulullah SAW bahwa kita semuanya dengan pakaian yang sama, berkumpul di tempat yang sama tanpa ada perbedaan status sosial, jabatan dan lain sebagainya. Kita di hadapan Allah sama,” jelasnya.

Pengalaman spiritual ini diharapkan mampu menumbuhkan sikap rendah hati dan menghilangkan sifat merasa lebih unggul dibandingkan orang lain ketika kembali bermasyarakat. Hal ini penting agar tidak ada lagi kesombongan atau perasaan superioritas di antara sesama.

“Mudah-mudahan bisa kita bawa kembali ke Indonesia bahwa di tengah masyarakat tidak ada lagi yang sombong, tidak ada lagi yang merasa statusnya lebih dari yang lain,” harapnya.

Evaluasi Diri

Anis juga berpesan kepada jemaah untuk terus memanjatkan doa kepada Allah SWT agar seluruh rangkaian ibadah haji yang telah dijalankan diterima dengan baik. Ia menganjurkan jemaah untuk melakukan introspeksi diri sebelum meninggalkan Tanah Suci.

Melalui evaluasi diri ini, jemaah dapat mengenali kekurangan yang mungkin masih ada, meskipun telah menyelesaikan ibadah haji. “Kita sudah selesai (berhaji) tapi ternyata kita masih punya nilai lebih baik dari orang lain, kita belum sabar terhadap jemaah lain dan lain sebagainya, itu tetap kita masih memiliki kesempatan ‘Ya Allah terimalah haji saya’,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa ibadah haji bukanlah sekadar rangkaian ritual yang selesai begitu saja. Haji memiliki tanggung jawab moral yang besar bagi setiap muslim yang telah menunaikannya.

Haji seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang mampu memberikan ketenangan, kedamaian, dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dampak positif dari haji harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau atapnya tidak sempurna kita akan tetap kepanasan, kedinginan. Maka diharapkan ketika umat Islam sudah berhaji, hajinya bisa berdampak menjadi penenang, pengayom, menjaga kerukunan dan menjadi teladan baik di masyarakat,” pungkasnya.