Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Bank Sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), telah mengambil langkah signifikan dengan menaikkan suku bunga acuannya ke level 1%. Keputusan ini menandai pencapaian suku bunga tertinggi di Jepang sejak tahun 1995 dan merupakan bagian dari normalisasi kebijakan moneter yang telah dimulai sejak 2024.

BoJ menyatakan bahwa inflasi konsumen masih berada di bawah target 2% yang ditetapkan. Hal ini sebagian disebabkan oleh berbagai kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meringankan beban rumah tangga akibat tingginya harga energi. Meskipun demikian, bank sentral memberikan peringatan bahwa kenaikan harga minyak mentah mulai berdampak pada berbagai sektor ekonomi.

Penerusan kenaikan harga yang berasal dari lonjakan harga minyak mentah berlangsung relatif cepat dalam transaksi antarbisnis dan dapat menyebar menjadi kenaikan harga konsumen pada berbagai jenis barang. Kondisi ini tercermin pada Indeks Harga Produsen (PPI) Jepang yang mengalami kenaikan sebesar 6,3% pada bulan Mei, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, dengan kenaikan biaya energi sebagai pendorong utama.

Kenaikan suku bunga ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak Desember lalu, ketika BoJ menaikkan suku bunga dari 0,5% menjadi 0,75%. Kenaikan kali ini membawa suku bunga acuan ke 1%, level yang terakhir kali dicapai pada tahun 1995.

Dalam pengumumannya, BoJ menyampaikan bahwa keputusan ini diambil dengan mayoritas suara, 7 banding 1. Anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang tidak menyetujui kenaikan tersebut dan memilih untuk mempertahankan suku bunga di level 0,75%.

Langkah pengetatan kebijakan moneter ini diambil di tengah meningkatnya tekanan inflasi serta pelemahan nilai tukar yen. Konflik yang melibatkan Iran semakin menambah kekhawatiran akan potensi kenaikan harga energi yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi.

Pasar keuangan merespons positif keputusan BoJ. Indeks Nikkei 225 dilaporkan naik 0,46% setelah pengumuman tersebut. Mata uang yen juga mengalami penguatan tipis terhadap dolar AS, mencapai 160,22 per dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dengan tenor 10 tahun juga menunjukkan peningkatan, naik 3 basis poin menjadi 2,615%.

Kurangi Pembelian Obligasi

Selain menaikkan suku bunga, Bank of Japan juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pengurangan pembelian obligasi pemerintah. Rencananya, pembelian obligasi pemerintah akan dikurangi sebesar 200 miliar yen setiap kuartal.

Setelah proses pengurangan ini selesai, bank sentral berencana untuk mempertahankan pembelian obligasi pemerintah Jepang pada angka 2 triliun yen per bulan, dimulai sejak April 2027.

Tai Hui, Kepala Strategi Pasar Asia Pasifik di J.P. Morgan Asset Management, menilai bahwa hasil pemungutan suara yang hampir bulat menunjukkan fokus utama BoJ saat ini lebih tertuju pada risiko inflasi, dibandingkan dengan kekhawatiran terhadap potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, meningkatnya harapan terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz juga berkontribusi dalam mengurangi ketidakpastian pasokan energi ke Jepang. Kondisi ini dianggap memberikan ruang yang lebih besar bagi BoJ untuk melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya.

Bursa Saham Asia

Perdagangan bursa saham Asia Pasifik pada Selasa, 16 Juni 2026, menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Tren ini berlawanan dengan pergerakan Wall Street yang mengalami lonjakan.

Indeks Kospi di Korea Selatan tercatat naik 0,61%. Namun, indeks Kosdaq, yang berfokus pada saham-saham berkapitalisasi kecil, mengalami penurunan sebesar 1,47%.

Di sisi lain, indeks Nikkei 225 di Jepang bergerak datar. Sementara itu, indeks Topix mengalami pelemahan sebesar 0,38%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong berada di level 24.799, yang lebih rendah dibandingkan penutupan indeks sebelumnya di 24.842,67.

Pergerakan bursa saham ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengkonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah menyatakan penghentian operasi militer di semua lini akan diresmikan melalui penandatanganan pada Jumat pekan ini di Swiss.

Pejabat senior pemerintahan Trump menginformasikan kepada CNBC bahwa nota kesepahaman tersebut telah ditandatangani secara elektronik pada hari Minggu. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa jalur utama Selat Hormuz akan dibuka kembali pada Jumat pekan ini. Sentimen positif ini menyebabkan harga minyak mentah turun hampir 5% pada hari Senin.

Wakil Presiden AS JD Vance menambahkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya untuk jangka waktu yang panjang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6