Cara Mengatasi Dampak FOMO dan Paylater pada Keuangan Pribadi

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Di era digital yang serba cepat ini, kemudahan akses terhadap berbagai layanan keuangan menjadi pedang bermata dua. Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa yang merupakan bagian signifikan dari populasi Indonesia, kemampuan mengelola keuangan pribadi menjadi kunci untuk masa depan yang stabil. Namun, godaan gaya hidup modern seperti FOMO (fear of missing out) dan kemudahan transaksi instan melalui layanan paylater seringkali mengaburkan pandangan bijak dalam menggunakan uang.

Fenomena FOMO, yang mendorong seseorang untuk terus mengikuti tren dan membeli apa yang sedang populer demi tidak ketinggalan momen, menjadi salah satu pemicu utama perilaku belanja impulsif. Ditambah lagi dengan maraknya flash sale dan kemudahan mendapatkan barang melalui skema paylater, generasi muda semakin rentan terjerumus dalam lubang utang konsumtif.

Shintya Maulida, Direktur Pengembangan Bisnis PT Plus Ultra Abadi (UATAS), menyoroti bahwa kemudahan digitalisasi yang seharusnya mempermudah justru menjadi tantangan tersendiri. “Sikap gengsi, FOMO, kemudahan akses transaksi digital, dan impulse buying, termasuk tren flash sale dan paylater, adalah penyebab utama masyarakat, terutama generasi muda, kurang bijaksana dalam menggunakan uangnya,” ujarnya pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Beliau menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik sejak dini. Kebijaksanaan finansial ini tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengatur pengeluaran, menetapkan prioritas, dan mempersiapkan kebutuhan di masa depan. Konsep financial wellness atau kesehatan finansial mencakup seluruh aspek tersebut.

Untuk membantu generasi muda mengendalikan kebiasaan belanja impulsif, Shintya memberikan beberapa saran praktis. Pertama, membuat anggaran bulanan yang jelas dan menetapkan batas pengeluaran untuk setiap pos. Kedua, penting untuk menghindari berbelanja saat sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil, karena keputusan yang diambil cenderung kurang rasional.

Terakhir, disiplin dalam mengevaluasi pengeluaran secara berkala sangat krusial. Dengan meninjau kembali ke mana saja uang dibelanjakan, seseorang dapat mengidentifikasi area pemborosan dan melakukan koreksi. Evaluasi ini juga membantu dalam menyusun strategi penghematan yang lebih efektif.

Mengenai keputusan untuk menggunakan layanan pinjaman, termasuk paylater, Shintya mengingatkan agar hal tersebut didasari oleh kebutuhan mendesak yang benar-benar sesuai dengan kemampuan untuk membayar kembali. Jika dana pinjaman akan digunakan untuk keperluan produktif yang berpotensi menghasilkan keuntungan, pastikan tenor pinjaman tersebut sejalan dengan target pendapatan dari bisnis yang dijalankan.

Sebagai generasi yang tumbuh bersama pesatnya perkembangan teknologi, mahasiswa memiliki potensi besar untuk memanfaatkan berbagai layanan digital secara produktif. Namun, kesadaran akan risiko yang menyertainya adalah hal yang tak kalah penting. Dengan pemahaman yang baik, mereka dapat membuat keputusan finansial yang lebih bijak dan bertanggung jawab.

Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan

Partisipasi UATAS dalam program Pindar Mengajar menjadi salah satu upaya nyata perusahaan untuk berkontribusi dalam peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Melalui kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari industri, dunia pendidikan, regulator, hingga masyarakat luas, UATAS berharap semakin banyak generasi muda yang dibekali pemahaman finansial yang memadai.

Harapannya, kebiasaan keuangan yang sehat dapat terbentuk sejak usia muda, yang pada gilirannya akan membangun fondasi finansial yang kuat di masa depan. Data dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis oleh OJK dan BPS menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di angka 66,46%, sementara indeks inklusi keuangannya mencapai 80,51%.

Ke depannya, UATAS berkomitmen untuk terus mendorong inisiatif edukasi yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Fokusnya meliputi literasi keuangan digital, pemahaman tentang keamanan data pribadi dalam transaksi digital, serta pembentukan kebiasaan pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Langkah-langkah ini sejalan dengan visi perusahaan untuk turut serta menciptakan masyarakat yang cerdas secara finansial dan siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa mendatang.