Dampak Rupiah Melemah pada Harga Daging Sapi dan Susu Impor

Bisnis7 Dilihat

DermayuMagz.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan dampak signifikan pada harga komoditas impor, termasuk sapi perah dan susu. Meskipun kenaikan harga tidak langsung dibebankan kepada konsumen, industri terkait merasakan gejolak ekonomi ini.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widyastuti, mengakui bahwa pelemahan rupiah memengaruhi harga bahan baku susu impor. Hal ini menjadi krusial mengingat 80 persen kebutuhan susu nasional dipenuhi dari impor.

Kondisi ini juga berimbas pada harga sapi perah impor yang didatangkan dari negara seperti Australia dan Selandia Baru. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, menyatakan bahwa kenaikan harga sapi perah impor memang terjadi.

Makmun menjelaskan bahwa meskipun belum ada perhitungan pasti mengenai dampak terbaru pelemahan rupiah, harga sapi perah impor masih berkisar di bawah Rp 50 juta per ekor. Sebagai gambaran, harga rata-rata sapi perah bunting impor sebelumnya berada di kisaran Rp 45 juta per ekor.

Kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang mencapai Rp 17.800 per dolar AS turut mendongkrak biaya operasional bagi industri yang bergantung pada impor. Pihak industri mengupayakan agar kenaikan biaya ini tidak langsung membebani konsumen.

General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Tjatur Lestijaman, membenarkan adanya kenaikan biaya produksi. Namun, kenaikan tersebut diklaim tidak lebih dari 10 persen.

Baca juga : Rupiah Tertekan Kembali Sore Ini

Tjatur menjelaskan bahwa perusahaan melakukan efisiensi di berbagai lini produksi untuk meredam dampak kenaikan biaya bahan baku impor. Selain itu, penyerapan susu lokal yang masih mencapai 20 persen juga turut membantu menstabilkan harga.

Sebelumnya, pelemahan rupiah hingga kisaran Rp 17.800 per dolar AS telah menekan sektor riil dan perusahaan yang bergantung pada impor. Kenaikan biaya bahan baku, mesin, dan energi impor membuat margin usaha tergerus.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan paling berdampak pada sektor usaha dengan ketergantungan tinggi pada impor. Biaya produksi dan logistik meningkat, sementara inflasi impor ikut terdorong.

Nanang menambahkan bahwa perusahaan importir bahan baku dan barang modal menjadi pihak yang paling terpukul. Perusahaan dengan utang valuta asing juga menghadapi beban cicilan yang lebih berat.

Banyak perusahaan kesulitan menaikkan harga jual produk mereka secepat kenaikan biaya produksi, yang akhirnya menekan margin usaha. Akibatnya, beberapa pelaku usaha cenderung menunda ekspansi atau investasi baru.

Nanang juga menggarisbawahi bahwa pelemahan rupiah di level Rp 17.800 per dolar AS lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global dan sentimen kebijakan, bukan semata-mata karena libur panjang.