El Nino Mengancam, BPBD Majalengka Bersama Paguyuban Silihwangi Antisipasi Karhutla Ciremai

Berita6 Dilihat

DermayuMagz.com – Ancaman cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino semakin menguat dan berdampak pada wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Majalengka.

Menyikapi potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau yang mulai terasa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat mitigasi, khususnya di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah dengan menggelar Gladi Penanggulangan Bencana Karhutla. Kegiatan simulasi ini dilaksanakan pada Kamis, 30 April 2026, bertempat di Bumi Perkemahan Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura.

Pelaksanaan gladi ini memiliki makna ganda. Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, acara ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan efektivitas respons cepat lintas sektor di kawasan konservasi yang memiliki nilai strategis tersebut.

Simulasi ini melibatkan berbagai elemen penting, mulai dari perwakilan pemerintah daerah, personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), hingga partisipasi aktif dari komunitas masyarakat setempat.

Pelaksanaan simulasi ini sangat relevan mengingat meningkatnya potensi kekeringan yang mulai melanda lereng Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Kondisi vegetasi yang mulai mengering akibat peningkatan suhu udara dan penurunan tingkat kelembapan dinilai dapat mempercepat munculnya titik api dan penyebaran kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Majalengka, Agus Tamim, menekankan pentingnya pendekatan proaktif dalam penanggulangan bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan bencana tidak boleh hanya bersifat reaktif atau menunggu bencana terjadi.

Agus menjelaskan bahwa sistem mitigasi yang efektif harus dibangun secara komprehensif, mencakup pendekatan struktural dan nonstruktural. Fokus utamanya adalah pada upaya pencegahan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Ia merinci bahwa mitigasi nonstruktural berkaitan erat dengan kesiapsiagaan dalam pencegahan, sementara mitigasi struktural melibatkan dukungan terhadap sarana dan prasarana serta sistem penanggulangan.

Baca juga di sini: Di Balik Langit Gaza: Seni Menyuarakan Palestina di TIM

“Intinya, kita harus siap sebelum bencana terjadi,” tegas Agus Tamim dalam keterangannya pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Agus juga menyoroti peran krusial masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan hutan. Masyarakat ini dianggap sebagai garda terdepan dalam upaya penanggulangan karhutla karena memiliki pengetahuan mendalam tentang kondisi lapangan dan kemampuan respons cepat ketika kebakaran mulai terjadi.

Secara geografis, Kabupaten Majalengka memiliki karakteristik kerentanan bencana yang kompleks. Wilayahnya membentang dari pegunungan hingga dataran rendah, yang berpotensi menimbulkan bencana berlapis, seperti longsor di daerah pegunungan dan banjir di wilayah hilir.

Berdasarkan data indeks kebencanaan, Kabupaten Majalengka menempati peringkat ke-15 di tingkat Provinsi Jawa Barat dan peringkat ke-273 secara nasional dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Dalam pelaksanaan gladi simulasi tersebut, BPBD juga secara khusus menyoroti dampak signifikan dari fenomena El Nino. Fenomena ini diketahui dapat meningkatkan suhu udara secara drastis dan menurunkan kelembapan, yang pada gilirannya mempercepat proses kekeringan pada vegetasi.

Kawasan Argapura, yang menjadi fokus dalam simulasi ini, didominasi oleh material yang mudah terbakar seperti rumput kering dan serasah hutan, sehingga sangat rentan terhadap risiko kebakaran.

“Pada fase El Nino ekstrem, suhu bisa sangat tinggi di jam tertentu. Ini meningkatkan risiko karhutla, terutama di kawasan rawan seperti Ciremai,” jelas Agus Tamim lebih lanjut.

Kegiatan gladi ini juga menjadi momentum penting untuk mengevaluasi tingkat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan. Selain itu, kegiatan ini memperkuat koordinasi antarinstansi dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang terpadu.

Dukungan kuat terhadap upaya BPBD Majalengka juga datang dari masyarakat yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Paguyuban Silihwangi Majakuning, yang merupakan gabungan dari Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Masyarakat Peduli Api (MPA), menyatakan komitmen mereka untuk berpartisipasi aktif dalam pencegahan karhutla yang berbasis komunitas.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, menilai bahwa sinergi yang terjalin antara BPBD, pengelola taman nasional, dan masyarakat merupakan kekuatan utama dalam upaya deteksi dini dan pencegahan kebakaran.

Nandar menekankan bahwa kolaborasi ini menjadi semakin vital di tengah ancaman fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla.

“Sebagai masyarakat desa penyangga, kami siap menjadi garda terdepan. Patroli rutin dan deteksi dini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama,” ujar Nandar Junar Arif.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada kegiatan simulasi, tetapi juga mencakup aktivitas berkelanjutan seperti patroli rutin di hutan, pelaksanaan edukasi kepada warga, serta pengawasan terhadap potensi sumber api di sekitar permukiman dan lahan pertanian.

Sebagai bentuk kesiapan yang lebih konkret, Paguyuban Silihwangi Majakuning telah mendistribusikan bantuan berupa alat pemadaman awal. Bantuan tersebut berupa waterjet shooter punggung yang disalurkan kepada sejumlah kelompok tani hutan.

Peralatan ini dirancang khusus untuk mempercepat respons awal ketika muncul titik api, terutama di area-area yang sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam kebakaran konvensional.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Ketua KTH Caladi Sakti, Suharman. Ia menegaskan kembali komitmen komunitasnya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam upaya menjaga kelestarian kawasan hutan Ciremai melalui kegiatan patroli rutin dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Dengan penguatan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis komunitas ini, sistem mitigasi karhutla di Kabupaten Majalengka diharapkan dapat menjadi lebih adaptif dan responsif. Hal ini penting untuk menghadapi puncak musim kemarau serta ancaman bencana yang semakin kompleks di masa mendatang.(*)