DermayuMagz.com – Penyebaran informasi mengenai hantavirus belakangan ini cukup membuat masyarakat resah. Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, beredar pula berbagai kabar bohong atau hoaks yang justru dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa hantavirus bukanlah penyakit baru yang muncul di Indonesia. Virus ini telah terdeteksi di Indonesia sejak tahun 1991, dan umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus atau celurut.
Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes yang menjabat saat itu, dr. Andi Saguni, tipe klinis hantavirus yang dikenal sebagai Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) sudah diketahui keberadaannya di Indonesia sejak 1991.
Seiring dengan maraknya kembali informasi mengenai hantavirus, muncul beberapa hoaks yang perlu diluruskan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
1. Moderna Diduga Merekayasa Wabah Hantavirus
Baca juga : Usaha Pinggir Jalan Desa yang Laris di Area Sepi
Sebuah narasi yang beredar di media sosial mengklaim bahwa maraknya kembali kasus hantavirus disebabkan oleh rekayasa perusahaan farmasi Amerika Serikat, Moderna. Klaim ini diperkuat dengan adanya artikel yang menyebutkan kolaborasi antara Moderna dan Universitas Korea dalam pengembangan vaksin hantavirus pada tahun 2024.
Namun, klaim tersebut tidak berdasar. Faktanya, pengembangan vaksin oleh perusahaan farmasi untuk virus yang sudah dikenal selama puluhan tahun, seperti hantavirus, merupakan praktik standar dalam industri farmasi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman kesehatan di masa depan.
Amesh Adalja, seorang peneliti senior di Johns Hopkins Centre for Health Security, menjelaskan bahwa upaya Moderna dalam mengembangkan vaksin hantavirus tahap awal justru menunjukkan bahwa virus ini telah lama dikenali sebagai ancaman kesehatan yang signifikan. Ini bukan berarti virus tersebut baru diciptakan.
2. Ivermectin Diklaim sebagai Obat Hantavirus
Hoaks lain yang beredar adalah klaim bahwa Ivermectin, obat yang umum digunakan untuk mengatasi infeksi parasit, dapat menyembuhkan hantavirus. Klaim ini juga pernah muncul saat pandemi COVID-19.
Klaim ini telah dibantah oleh European Medicines Agency (EMA). EMA menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung efektivitas Ivermectin dalam mengobati hantavirus maupun virus corona. Hingga saat ini, belum ada pengobatan antivirus atau vaksin khusus untuk hantavirus.
Penanganan klinis untuk infeksi hantavirus masih bergantung pada perawatan suportif dan akses segera ke fasilitas perawatan intensif. Pernyataan EMA menegaskan bahwa Ivermectin belum terbukti efektif untuk penyakit virus seperti hantavirus.
Tentang Cek Fakta Liputan6.com
Melawan penyebaran informasi yang salah atau hoaks adalah upaya penting untuk mencegah pembodohan publik. Oleh karena itu, Liputan6.com mendirikan Kanal Cek Fakta pada tahun 2018 untuk memberikan literasi media kepada masyarakat luas.
Sejak bergabung dengan International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi mitra Facebook pada 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com terus berupaya menyajikan informasi yang akurat. Kami juga berpartisipasi dalam inisiatif cekfakta.com.
Kolaborasi dengan berbagai pihak tidak pernah mengurangi independensi kami dalam melakukan verifikasi fakta. Jika Anda memiliki informasi mengenai hoaks yang perlu ditelusuri, jangan ragu untuk mengirimkannya melalui email ke [email protected].
Untuk mendapatkan jawaban yang lebih cepat, Anda juga bisa menghubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di nomor 0811-9787-670.





