DermayuMagz.com – Bandara Internasional Soekarno-Hatta meningkatkan kewaspadaan dan memperketat skrining terhadap penumpang internasional. Langkah ini diambil sebagai antisipasi masuknya Hantavirus ke Indonesia.
Peningkatan standar kesehatan bagi pelaku perjalanan udara luar negeri ini merupakan respons terhadap laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai kasus kematian akibat Hantavirus pada penumpang kapal pesiar.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menjelaskan bahwa proses pengawasan dimulai sejak kedatangan penumpang.
BBKK memanfaatkan sistem deklarasi kesehatan melalui aplikasi SatuSehat untuk mendeteksi risiko dari setiap pesawat dan penumpang. Hal ini memungkinkan identifikasi dini terhadap individu yang berpotensi memiliki risiko.
Selain itu, pengamatan terhadap tanda dan gejala penyakit dilakukan melalui penggunaan thermal scanner dan observasi visual saat penumpang turun dari pesawat.
“Kalau dari pemeriksaan memang yang bersangkutan itu probable, maka kami rujuk ke rumah sakit pusat infeksi untuk melakukan penanganan lebih lanjut,” ujar Naning.
Jika seorang penumpang terindikasi menunjukkan gejala yang mencurigakan, mereka akan segera menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis.
Baca juga: Lord of the Rings: Cincin Kekuatan Musim 3 Tayang November 2026
Proses lanjutan ini bertujuan untuk memastikan kondisi penumpang secara akurat dan menentukan langkah penanganan yang tepat, termasuk isolasi atau pemeriksaan laboratorium.
Bandara Soekarno-Hatta telah mempersiapkan jalur khusus yang dirancang untuk penanganan penyakit menular. Jalur ini digunakan untuk mengevaluasi dan menangani penumpang yang teridentifikasi memiliki potensi penyakit menular sejak tahap awal kedatangan.
Persiapan ini mencakup penyediaan fasilitas yang memadai untuk memastikan keamanan dan efektivitas penanganan.
BBKK juga menyediakan ambulans khusus yang didesain untuk mengangkut pasien dengan penyakit menular. Ambulans ini dilengkapi dengan teknologi dekontaminasi.
Sistem dekontaminasi pada ambulans ini sangat penting untuk mencegah penyebaran virus, bakteri, atau kuman selama proses rujukan pasien.
“Di ambulans penyakit menular ada sistem dekontaminasi sehingga virus, bakteri, atau kuman, yang berasal dari orang yang masuk di dalam ambulans yang kita curigai tadi, itu nanti bisa didekontaminasi sehingga tidak terjadi penularan ke orang lain,” jelas Naning.
Pengawasan diperketat terutama bagi penumpang yang datang dari empat negara yang dilaporkan memiliki kasus Hantavirus. Keempat negara tersebut adalah Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama.
Hantavirus diketahui menyebar melalui hewan pengerat, seperti tikus, melalui urine, air liur, atau kontaminasi lingkungan. Penularan dari manusia ke manusia belum dilaporkan.
Di Jakarta, Dinas Kesehatan mencatat empat kasus Hantavirus sepanjang tahun 2026. Tiga dari kasus tersebut telah berhasil sembuh dengan gejala ringan.
Satu kasus lainnya masih dalam status suspek dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi lebih lanjut.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia menekankan bahwa Hantavirus adalah virus yang sudah lama dikenal dan terus dipantau.
Sumber penularan utama virus ini tetap berasal dari tikus. Oleh karena itu, pencegahan sangat penting.
Masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
Mencuci tangan secara teratur sebelum dan sesudah beraktivitas juga menjadi kebiasaan penting yang perlu diterapkan.
Selain itu, penggunaan masker dan alat pelindung diri disarankan saat berada di area yang berpotensi terkontaminasi oleh tikus.






