DermayuMagz.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti potensi lonjakan harga minyak dunia sebagai dampak utama dari perpanjangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, pergerakan harga energi menjadi indikator krusial untuk mengukur dampak ekonomi global akibat ketegangan tersebut. Ia memprediksi harga minyak bisa menembus USD 110 per barel jika eskalasi konflik terus berlanjut.
“Itu tergantung pada harga minyak. Jadi, kita melihat bahwa setiap harga minyak mencapai lebih dari USD 110, maka konsumsi domestik di AS meningkatkan harga. Jadi, selalu ada beberapa langkah yang harus diambil untuk menurunkan harga minyak,” ujar Airlangga saat menghadiri Brussels Economic Security Forum (BESF) di Brussel, Belgia, pada Jumat, 5 Juni 2026.
Namun, pemerintah memandang bahwa harga minyak tidak akan mencapai level ekstrem seperti pada periode 2007-2008 yang mencapai sekitar USD 140 per barel. Dalam skenario konflik saat ini, batas atas harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD 110 per barel, dengan rata-rata diperkirakan sekitar USD 100 per barel.
“Jadi, kita memperkirakan bahwa harga minyak tidak akan kembali ke tahun 2007 atau 2008, di mana harga minyak tertinggi adalah USD 140, tetapi dalam perang ini batasnya sekitar USD 110. Jadi rata-rata kita berada di angka USD 100. Jadi, kita akan melihat bagaimana kelanjutannya,” jelasnya.
Airlangga menambahkan bahwa dinamika yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan dampak ekonomi yang timbul akibat perang Rusia-Ukraina serta gangguan rantai pasok global selama pandemi COVID-19.
Pada masa tersebut, harga energi melonjak tajam karena terganggunya pasokan global. Namun, seiring waktu, pasar mampu beradaptasi dengan peningkatan produksi dari negara lain, yang kemudian meredakan tekanan harga.
“Hal yang sama seperti yang terjadi dengan perang Ukraina di sini. Mereka juga menaikkan harga energi selama COVID. Tetapi setelah itu, kemudian turun,” katanya.
Ia mencontohkan sektor pangan, khususnya komoditas biji-bijian, yang sempat terdampak akibat terganggunya ekspor dari Ukraina. Namun, pasokan dari negara produsen lain akhirnya mampu menggantikan kekurangan tersebut, sehingga harga kembali menyesuaikan.






