Jemaah Haji Gunungkidul Kenakan Blangkon untuk Ibadah

Berita4 Dilihat

DermayuMagz.com – Inisiatif unik dilakukan oleh jemaah haji asal Gunungkidul, Yogyakarta, yang tergabung dalam kloter YIA 10. Mereka memilih untuk mengenakan blangkon, penutup kepala tradisional khas Yogyakarta, selama menjalani ibadah haji, kecuali saat pelaksanaan ihram.

Tindakan ini bukan sekadar gaya, melainkan upaya untuk mempromosikan kearifan lokal dan menjaga identitas budaya di tengah keramaian jutaan jemaah dari seluruh dunia. Blangkon dipilih sebagai ikon Yogyakarta yang diharapkan dapat menjadi pemersatu dan memudahkan koordinasi antarjemaah.

Saban Nuroni, seorang pendamping Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Muslimat NU yang juga berada dalam kloter YIA 10, menjelaskan bahwa penggunaan blangkon ini sudah menjadi tradisi sejak tahun 2017. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan budaya lokal Indonesia ke kancah internasional.

Lebih dari sekadar penanda budaya, blangkon yang dikenakan oleh jemaah ini ternyata menyimpan nilai dan pesan religius yang mendalam. Saban Nuroni mengungkapkan bahwa terdapat 17 lipatan pada blangkon. Jumlah ini melambangkan 17 rakaat salat wajib yang dilaksanakan oleh seorang muslim setiap harinya.

Selain itu, bagian punukan yang terletak di bagian belakang blangkon juga memiliki makna filosofis. Saban menjelaskan bahwa punukan mengajarkan para jemaah untuk menyimpan aib atau perbedaan pendapat secara rapat-rapat, tidak mengumbarnya di depan publik. Ini mencerminkan pentingnya menjaga kehormatan diri dan sesama.

Desain blangkon yang bagian depannya terbuka juga dinilai sangat fungsional untuk keperluan ibadah. Desain ini memastikan bahwa kening dapat menempel dengan sempurna saat bersujud tanpa terhalang oleh kain atau bahan lainnya. Hal ini mendukung kekhusyukan dalam shalat.

Fungsi praktis blangkon juga sangat terasa dalam situasi ibadah haji yang membutuhkan mobilitas tinggi dan potensi terpisah dari rombongan. Saban menambahkan bahwa blangkon berfungsi sebagai penanda visual yang memudahkan jemaah untuk mengenali anggota rombongannya jika mereka terpisah, terutama setelah shalat di Masjid Nabawi.

“Sangat membantu untuk mengenali kawan jika terpisah. Dari jauh sudah kelihatan kalau itu rombongan kita,” ujar Saban, menekankan betapa berharganya identifikasi visual ini di tengah kerumunan yang sangat besar.

Baca juga: Sheila On 7 Rilis Single dengan Nuansa Baru

Secara keseluruhan, terdapat 40 jemaah pria di bawah bimbingan KBIHU Muslimat NU dalam kloter ini. Seluruh jemaah pria tersebut secara konsisten mengenakan blangkon dalam setiap aktivitas mereka di luar hotel selama menunaikan ibadah haji.