DermayuMagz.com – Muhadkly Acho, sosok di balik kesuksesan film “Agak Laen” yang memecahkan rekor penonton, kembali menjadi sorotan publik. Selain dikenal sebagai sutradara brilian, Acho juga aktif sebagai penulis naskah dan aktor.
Dalam sebuah wawancara, Acho ditanya mengenai profesi mana yang paling membuatnya nyaman di antara ketiganya: sutradara, penulis naskah, atau aktor. Pertanyaan ini memaksanya untuk berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban.
Film “Agak Laen” yang dirilis pada tahun 2024 berhasil menarik perhatian jutaan penonton. Sekuelnya, “Agak Laen: Menyala Pantiku!”, bahkan melampaui kesuksesan pendahulunya dengan meraih lebih dari 11 juta penonton, menjadikannya film terlaris di Indonesia, mengungguli film blockbuster internasional seperti “Avengers: Endgame”. Kini, para penggemar menantikan kelanjutan kisah dalam “Agak Laen 3”.
Awal karier Acho di dunia akting dimulai pada tahun 2014 melalui film “Luntang Lantung” dan “Bajaj Bajuri The Movie”, yang disutradarai oleh Fajar Nugros. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan bakatnya di berbagai aspek perfilman.
Saat ditanya mengenai urutan profesi yang paling membuatnya nyaman, Acho awalnya meminta waktu untuk mempertimbangkan. Setelah merenung, ia memutuskan untuk mengurutkan profesinya berdasarkan intensitas keterlibatan dan proses kreatif yang dijalani.
Posisi pertama dalam urutan kenyamanan Acho ditempati oleh profesi sutradara. Ia menjelaskan bahwa proses mewujudkan visi kreatif dari sebuah naskah menjadi sebuah karya audio visual yang utuh membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan. Hal ini dikarenakan sutradara harus berkoordinasi dengan ratusan orang dari berbagai departemen.
“Sulit banget mengurutkannya. Cuma kalau diurutkan berdasarkan intensitas pasti pertama, sutradara. Proses mewujudkan visi kreatif dari tulisan ke layar lebar dalam format audio visual itu panjang dan melelahkan karena harus berkoordinasi dengan ratusan orang,” ungkap Acho.
Pengalaman ini mengajarkannya bahwa dalam menciptakan karya seni, tidak ada jawaban tunggal yang benar atau salah. Setiap film dapat diterima dan diinterpretasikan secara berbeda oleh penontonnya.
“Penafsiran tiap orang belum tentu sama. Jadi, menarik ketika berdiskusi dengan pemain lalu mereka melihat sesuatu yang sutradara atau penulis naskah tidak lihat. Itu jadi belajar tentang manusia dengan medium seni,” tambah Acho.
Posisi kedua dalam urutan Acho adalah penulis naskah. Profesi ini, sama seperti menyutradarai, merupakan proses kreatif yang sunyi namun fundamental. Menulis naskah adalah titik awal terciptanya sebuah dunia yang nantinya akan divisualisasikan di layar lebar.
Kemudian, di posisi ketiga, adalah profesi aktor. Meskipun menempatkan akting di urutan terakhir, Acho menegaskan bahwa ini bukan berarti ia tidak menyukai akting atau merasa tidak penting. Baginya, menjadi aktor adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
“Kalau enggak jadi pemain, aku cuma melihatnya dari sudut pandang pengarah tapi tidak bisa berdiri di kaki orang yang diarahkan. Dengan jadi pemain, saya bisa tahu apa yang mereka inginkan di lapangan,” jelasnya.
Dengan menjadi aktor, Acho dapat merasakan langsung tantangan dan perspektif para pemain di lokasi syuting. Pengalaman ini memberinya empati dan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika di balik layar.
Karya terbaru Acho sebagai aktor dapat disaksikan dalam film “Children of Heaven” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini memiliki pesan moral yang kuat tentang pentingnya empati dan optimisme di tengah keterbatasan.
Saat menonton film tersebut bersama keluarga, Acho berharap anak-anaknya dapat merasakan dan memahami perjuangan hidup di masa lalu yang mungkin tidak semudah kehidupan mereka saat ini. Ia ingin mereka belajar tentang pentingnya berjuang untuk meraih sesuatu, bahkan hal sesederhana memiliki sepasang sepatu untuk sekolah.
“Harapannya ketika menonton, anakku punya empati dan merasakan di era jauh sebelum dia lahir, kehidupan tidak senyaman sekarang. Ada orang-orang yang berjuang. Bahkan, strugle-nya sesederhana ingin bisa punya sepasang sepatu untuk sekolah,” ujar Acho.
Film “Children of Heaven” juga mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Beliau menonton film ini untuk kedua kalinya dan menemukan banyak hikmah berharga yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
Abdul Mu’ti menyoroti tiga poin penting dari film tersebut. Pertama, kesederhanaan hidup tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk beroptimisme. Kekurangan materi bukanlah alasan untuk kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik. Ia menekankan bahwa dengan kesungguhan, setiap orang memiliki peluang untuk meraih kesuksesan.
Kedua, film ini menggambarkan bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang nyaman dan seperti rumah bagi anak-anak. Kebersamaan yang tercipta di sekolah, serta dedikasi para guru dalam mendidik murid-muridnya, menjadi poin penting yang patut dicontoh. Perhatian yang diberikan guru kepada siswa tanpa memandang latar belakang mereka juga sangat diapresiasi.
“Bagaimana guru penuh dedikasi dengan cara masing-masing, menanamkan disiplin kepada para murid. Itu saya kira penting untuk masa sekarang ini. Ketiga, bagaimana dunia pendidikan memberi perhatian kepada semua murid tanpa melihat latar belakang mereka,” kata Abdul Mu’ti.
Ia juga menambahkan bahwa setiap murid harus memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita mereka. Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya peran guru dalam memberikan kesempatan ini.
Dalam film “Children of Heaven”, terdapat adegan di mana kepala sekolah, Pak Slamet (diperankan oleh Muhadkly Acho), menghukum Ali (diperankan oleh Jared Ali) yang terlambat masuk sekolah. Namun, Abdul Mu’ti melihat ini bukan sebagai tindakan kejam, melainkan sebagai upaya menanamkan disiplin dan penghargaan terhadap waktu serta aturan.
Di sisi lain, guru Matematika, Suraji (diperankan oleh Dodit Mulyanto), menunjukkan pendekatan yang berbeda dengan mencoba memahami alasan keterlambatan Ali. Perbedaan gaya mengajar ini menggambarkan bagaimana guru memiliki cara kasih sayang yang beragam dalam mendidik siswa.
Abdul Mu’ti berpesan agar para guru senantiasa menjadi pendengar yang baik, memiliki empati, dan memberikan semangat kepada murid-murid mereka dalam mencapai impian. Ia menekankan pentingnya tidak mudah menghakimi siswa.
Lebih lanjut, film ini juga menyoroti isu akses pendidikan, terutama bagi anak-anak di daerah terpencil. Aktor Andri Mashadi dan Faradina Mufti, yang turut membintangi film ini, mengungkapkan harapan agar perhatian terhadap daerah pedalaman semakin ditingkatkan. Hal ini penting agar pemerataan akses pendidikan dapat terwujud, sehingga semua anak di Indonesia memiliki hak yang sama untuk belajar dan mengajar dengan layak.
Baca juga : Drama Baru Real Madrid: Vinicius Vs Mbappe
Semangat juang anak-anak Indonesia untuk belajar sangat tinggi, begitu pula semangat para guru dalam mengajar. Diharapkan semangat ini dapat terus dijunjung tinggi dan menginspirasi kemajuan bangsa.






