Renyahnya Keripik Cipuy: Pangan Lokal Pemberdaya Janda dan Lansia

News4 Dilihat

DermayuMagz.com – Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, sebuah usaha rumahan di Bogor, Jawa Barat, berhasil menciptakan kisah inspiratif. Keripik Cipuy Renyah, sebuah produk olahan singkong yang sederhana, bukan hanya sekadar camilan gurih, tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi para janda dan lansia di lingkungannya.

Di Jalan Nanggerang, Bojonggede, Bogor, rumah produksi Keripik Cipuy Renyah menjadi saksi bisu dari semangat kewirausahaan. Meskipun tampak biasa dari luar, di dalamnya terdapat denyut kehidupan yang sibuk. Tumpukan keripik singkong memenuhi ruangan, sementara aroma gurih minyak goreng menguar di udara.

Sebuah pemandangan hangat terlihat di salah satu sudut ruangan. Delapan perempuan duduk melingkar di lantai, tangan mereka cekatan memasukkan keripik ke dalam kemasan plastik. Obrolan ringan dan tawa sesekali terdengar, menciptakan suasana kerja yang akrab dan penuh kekeluargaan.

Di antara mereka, Encih (44), sang pemilik usaha, turut merapikan kemasan. Wajahnya mungkin menunjukkan kelelahan, namun matanya memancarkan semangat untuk memastikan setiap detail produksi berjalan sempurna. Ia adalah jantung dari usaha ini, yang tak kenal lelah mengawasi jalannya roda produksi.

Tak jauh dari Encih, seorang pria lanjut usia dengan sigap mengangkat keripik singkong yang baru saja matang dari wajan besar menggunakan saringan. Keripik emas itu kemudian dituangkan ke dalam karung plastik bening yang hampir penuh, siap untuk dikemas.

Perjalanan Keripik Cipuy Renyah dimulai pada tahun 2019. Dengan modal awal sekitar Rp 15 juta, Encih memulai usahanya. Modal tersebut berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman dari keluarga yang mendukung penuh impiannya. Dana itu dialokasikan untuk pembelian peralatan produksi seperti kompor dan wajan, serta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan minyak goreng.

Sebelum terjun langsung sebagai pengusaha, Encih telah memiliki pengalaman bekerja di usaha serupa. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga baginya untuk memahami seluk-beluk produksi keripik, mulai dari pemilihan bahan hingga proses pengemasan.

“Waktu itu mikirnya mudah-mudahan bisa jalan dulu,” kenang Encih dengan senyum.

Awalnya, produksi Keripik Cipuy Renyah masih dalam skala kecil, sekitar satu kuintal per minggu. Namun, berkat kualitas dan rasa yang disukai pelanggan, permintaan terus meningkat. Dalam sebulan, produksi melonjak menjadi dua kuintal, dan tak lama kemudian, usaha ini mampu memproduksi hingga satu hingga dua ton keripik.

Namun, di tengah geliat perkembangan usaha, badai pandemi COVID-19 melanda. Gelombang pertama penjualan masih bisa bertahan, namun memasuki gelombang berikutnya, usaha Encih terpukul keras. Toko-toko dan warung yang menjadi mitra distribusinya sepi pembeli, membuat banyak produk yang harus dikembalikan.

“Barang banyak yang balik lagi,” tuturnya lirih.

Situasi sulit ini sempat menghentikan produksi. Dalam sebulan, produksi hanya bisa dilakukan sekali, bahkan pernah tidak sama sekali. Encih merasakan usahanya seperti kembali dari titik nol.

Dalam masa-masa sulit itu, Encih memilih untuk bertahan. Tabungannya kembali diputar menjadi modal agar produksi bisa terus berjalan walau dalam skala kecil. Beruntung, ia memiliki beberapa reseller setia yang tetap membantu penjualan produknya.

Meskipun hanya memproduksi satu kuintal, keripik dagangannya kembali habis terjual. Momentum ini menjadi titik balik, dan produksi perlahan kembali berjalan setiap hari. Usaha yang sempat terpuruk mulai bangkit kembali.

Sekitar tiga bulan setelah kondisi membaik, produksi Keripik Cipuy Renyah kembali meningkat pesat. Dalam seminggu, Encih mampu memproduksi hingga satu ton keripik. Permintaan pun kembali mengalir dari berbagai toko dan reseller yang sebelumnya sempat menahan pesanan.

Pakai KUR BRI, Penjualan Makin Meningkat

Ketika penjualan Keripik Cipuy Renyah mulai stabil dan menunjukkan tren positif, Encih mengambil langkah berani dengan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Tujuannya sederhana: menambah modal usaha agar dapat berkembang lebih pesat.

Pinjaman pertama senilai Rp 25 juta ia terima pada tahun 2022. Dana tersebut dialokasikan untuk memperbesar kapasitas produksi, terutama dalam pembelian bahan baku dalam jumlah yang lebih besar, sehingga usahanya dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kalau alat-alat mah sebenarnya sudah ada. Jadi fokusnya buat nambah bahan produksi,” jelas Encih.

Sebelum mendapatkan tambahan modal dari KUR, produksi keripik Encih masih terbatas. Ia hanya berani memproduksi satu kuintal, lalu menunggu barang habis terjual sebelum memulai produksi kembali. Pola ini diakuinya memperlambat perkembangan usahanya.

Dengan adanya tambahan modal dari KUR, Encih mampu membeli bahan baku dalam jumlah yang lebih signifikan dan memperluas jangkauan pemasarannya ke berbagai toko. Perlahan, produk Keripik Cipuy Renyah mulai merambah pasar Jakarta.

Kapasitas produksinya yang sebelumnya hanya satu kuintal, kini melonjak menjadi lima kuintal dalam sekali produksi. Encih mengungkapkan bahwa kebutuhan bahan bakunya saat ini mencapai sekitar dua ton singkong per minggu.

“Alhamdulillah sekarang seminggu bisa dua ton,” ujarnya bangga.

Proses pengajuan KUR pertama memang memakan waktu sekitar satu bulan. Namun, setelah pinjaman pertama berhasil dan dikelola dengan baik, pengajuan untuk pinjaman berikutnya menjadi lebih cepat dan efisien.

Setelah pinjaman pertama lunas, Encih kembali mengajukan top up KUR sebesar Rp 50 juta. Tambahan modal ini kembali dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga stabilitas pasokan bahan baku. Ia menyadari fluktuasi harga bahan baku seperti singkong, minyak goreng, dan plastik kemasan kerap terjadi.

Menurut Encih, tambahan modal dari KUR sangat krusial dalam menjaga perputaran usaha, terutama saat permintaan pasar sedang tinggi. Dalam kondisi tertentu, produksi keripiknya bahkan bisa mencapai tiga ton dalam seminggu.

Selain mengandalkan penjualan langsung, Encih juga menerapkan strategi titip jual ke berbagai toko. Pendekatan ini dinilainya lebih aman dan efektif untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan reseller yang telah lama bekerja sama.

Ia bahkan memberikan kelonggaran pembayaran kepada beberapa toko agar usaha mereka sama-sama dapat berjalan lancar. Sebagian pembayaran dilakukan di muka, sementara sisanya diselesaikan setelah barang habis terjual.

“Jadi sama-sama muter usahanya,” tegas Encih.

Omzet Naik, Encih Beli Mobil dan Tanah

Perkembangan pesat Keripik Cipuy Renyah telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan Encih dan keluarganya. Jika di awal merintis usaha, omzetnya hanya berkisar Rp 6 juta per bulan, kini penghasilannya telah melonjak menjadi Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan.

“Kalau dibanding awal mah jauh banget,” ucapnya.

Dari keuntungan usaha keripik ini, Encih berhasil menambah aset berharga. Salah satunya adalah pembelian tanah di samping rumah produksinya. Lahan tambahan ini direncanakan untuk memperluas area produksi, mengingat ruang kerja sebelumnya semakin terasa sempit dan panas, terutama saat volume produksi sedang tinggi.

Selain tanah, Encih juga mampu membeli sebuah mobil yang sangat membantu kebutuhan operasional distribusi barang. Sebelumnya, pengiriman pesanan hanya mengandalkan sepeda motor keluarga. Terlebih saat permintaan melonjak, seperti menjelang Lebaran, mereka harus melakukan beberapa kali pengiriman bolak-balik ke toko dan reseller.

“Kalau hujan atau macet suka repot,” keluhnya.

Kini, Encih juga memiliki beberapa unit motor yang dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan operasional harian usahanya.

Asal Muasal Nama Cipuy Renyah

Encih menceritakan dengan ramah asal-usul nama unik usahanya, Cipuy Renyah. Nama “Cipuy” ternyata berawal dari panggilan masa kecilnya. Saat ia mulai merintis usaha, para keponakannya mengusulkan agar nama panggilan tersebut dijadikan merek produk.

“Ponakan-ponakan bilang, udah pakai nama Bibi aja, Cipuy ditambah Renyah. Ya sudah akhirnya dipakai,” ujar Encih sambil tersenyum.

Nama tersebut kemudian dipatenkan dan menjadi identitas khas usaha keripik singkong miliknya. Produk Cipuy Renyah juga telah mengantongi sertifikat halal, yang proses pengurusannya dibantu oleh pihak BRI.

Selain itu, usahanya juga pernah menerima dukungan dari program pemberdayaan YBM BRILiaN berupa hibah barang senilai sekitar Rp 8 juta. Bantuan tersebut sangat berguna untuk menunjang kebutuhan produksi, seperti terpal dan perlengkapan usaha lainnya.

Saat ini, Cipuy Renyah masih berfokus pada produk keripik singkong original. Untuk varian rasa pedas, Encih menerapkan sistem pre-order karena daya tahan produknya cenderung lebih singkat.

“Kalau pedas paling PO saja. Takutnya nggak tahan lama,” jelasnya.

Produk keripik ini ditawarkan dalam berbagai ukuran kemasan. Kemasan 400 gram dibanderol seharga Rp 12 ribu. Untuk kemasan kiloan, dijual seharga Rp 25 ribu per kilogram. Tersedia pula kemasan besar dua kilogram yang biasanya dipesan khusus oleh reseller untuk diolah kembali menjadi varian rasa pedas.

Saat ini, Encih dibantu oleh sekitar 18 reseller aktif yang tersebar di berbagai daerah. Meskipun jumlah reseller sedikit berkurang dibandingkan sebelum pandemi COVID-19, volume pembelian justru mengalami peningkatan.

“Sekarang ada reseller yang seminggu bisa ambil sampai lima kuintal,” katanya bangga.

Pemasaran Cipuy Renyah dilakukan baik secara offline maupun online. Selain memasok ke toko-toko dan reseller, pesanan juga datang melalui media sosial dan pencarian di Google yang dikelola oleh anaknya.

Di tengah persaingan usaha camilan yang semakin ketat, Encih tetap konsisten menjaga kualitas produknya. Ia sangat memperhatikan setiap detail proses penggorengan, mulai dari suhu minyak, kestabilan api, hingga kualitas singkong yang digunakan setiap hari.

“Kita harus punya ciri khas. Makanya dari cara goreng sampai kualitas minyak benar-benar dijaga,” tegas Encih.

Pekerjakan Janda dan Lansia

Di rumah produksi Keripik Cipuy Renyah, Encih tidak hanya memproduksi keripik, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi belasan warga sekitar. Sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga, janda, dan lansia.

“Alhamdulillah sekarang bukan keluarga saja yang kerja. Sudah banyak ibu-ibu sekitar sini juga,” ujar Encih.

Sistem upah yang diterapkan disesuaikan dengan hasil pekerjaan masing-masing. Para pekerja mencatat hasil kerja mereka setiap hari, dan pembayaran dilakukan setiap sepuluh hari sekali. Besaran penghasilan pekerja bervariasi, tergantung pada kecepatan dan jumlah pekerjaan yang berhasil diselesaikan.

“Kalau yang cepat sehari bisa dapat Rp 60 ribu,” ungkapnya.

Saani, salah satu karyawan Encih, merupakan seorang perempuan berusia 66 tahun. Ia telah menggantungkan penghasilannya pada Encih selama delapan tahun terakhir. Sejak suaminya meninggal, Saani tinggal bersama cucunya dan mengandalkan pemasukan dari mengiris singkong di rumah produksi Cipuy Renyah.

“Kalau nggak kerja di sini ya bingung,” kata Saani dengan suara pelan.

Sebelum bekerja di tempat Encih, ia sempat tinggal di Jakarta sebelum akhirnya pindah ke kawasan Citayam. Awalnya, Saani hanya datang ke rumah produksi Cipuy Renyah untuk mengisi waktu karena tidak betah berdiam diri di rumah. Namun, seiring waktu, pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan utama baginya.

“Pertama mah cuma belajar ngiris aja,” kenangnya.

Setiap pagi, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan mengurus cucunya, Saani bergegas menuju tempat produksi. Ia bekerja dari pagi hingga pekerjaan selesai, selama kondisi fisiknya masih memungkinkan.

Bagi Encih, keberadaan para pekerja ini menjadi salah satu motivasi terbesarnya untuk terus mempertahankan usahanya, meskipun berkali-kali menghadapi masa-masa sulit.

Ke depannya, Encih memiliki harapan besar untuk membawa Cipuy Renyah berkembang lebih besar lagi. Ia bercita-cita untuk memperluas pasar hingga ke luar Pulau Jawa dan memiliki tempat produksi yang lebih memadai dan layak.

“Bismillah pengen lebih besar lagi,” harapnya.

UMKM Masih Jadi Penopang Utama Kredit BRI

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung bisnis PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Hingga kuartal I tahun 2026, pembiayaan untuk sektor UMKM mendominasi portofolio kredit perseroan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa total kredit dan pembiayaan BRI pada awal tahun 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 13,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), mencapai Rp 1.562 triliun.

Menurut Hery, mayoritas pembiayaan tersebut masih ditopang oleh sektor UMKM, yang selama ini menjadi fokus utama BRI.

“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery dalam acara Konferensi Pers Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, pada Kamis (30/4/2026).

Selain memperbesar porsi pembiayaan UMKM, BRI juga terus memperkuat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai bagian dari dukungan terhadap program ekonomi kerakyatan yang digagas oleh pemerintah.

Selama periode Januari hingga Maret 2026, BRI telah berhasil menyalurkan KUR senilai Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah di berbagai wilayah di Indonesia.

Dari total penyaluran KUR tersebut, sektor pertanian menjadi penerima terbesar, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun, atau sekitar 42,16 persen dari total KUR yang disalurkan.

Hery menambahkan bahwa penyaluran pembiayaan ini tidak hanya menunjukkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga berperan sebagai katalisator dalam mendorong pertumbuhan usaha-usaha produktif di masyarakat.

“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” jelasnya.

Baca juga : Sulap Limbah Jadi Kebun Sayur Estetik dan Produktif

Selain fokus pada penyaluran pembiayaan, BRI juga secara konsisten menjalankan berbagai program pemberdayaan bagi pelaku UMKM. Program-program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.