Swiss Dukung Indonesia Gabung OECD, Beri Dana 3 Juta Euro

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Swiss menyatakan dukungan penuhnya terhadap upaya Indonesia untuk bergabung menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Komitmen ini diperkuat dengan kucuran dana hibah sebesar 3 juta Euro dari Swiss untuk Indonesia.

Pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) OECD 2026 menjadi momen penting. Dalam pertemuan tersebut, dibahas penguatan kerja sama ekonomi, ketahanan energi, serta akselerasi langkah Indonesia menuju keanggotaan OECD.

Airlangga Hartarto menekankan bahwa hubungan bilateral yang erat dengan Swiss menjadi pilar krusial bagi transformasi ekonomi dan penguatan ketahanan nasional Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global yang terus meningkat.

Salah satu hasil konkret dari pertemuan ini adalah rencana penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) non-binding di sektor mineral dan logam yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026. Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas kemitraan kedua negara ke sektor bahan baku mineral kritis, dengan Swiss menekankan pentingnya keterbukaan pasar untuk kelancaran implementasi kesepakatan.

Dukungan Swiss terhadap keanggotaan Indonesia di OECD tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga substantif. Dana hibah 3 juta Euro akan dialokasikan melalui program kerja sama Swiss (2025–2028) yang fokus pada tiga area utama. Area tersebut meliputi tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN), peningkatan kapasitas dalam Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab (OECD Responsible Business Conduct), dan aksesi ke Konvensi Anti-Suap OECD.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah berupaya keras untuk memenuhi berbagai persyaratan keanggotaan OECD. Saat ini, proses pembahasan 240 instrumen hukum OECD yang tersebar dalam 32 bab tengah dilakukan bersama lebih dari 60 Kementerian/Lembaga. Tujuannya adalah memastikan standar-standar tersebut tidak hanya diadopsi secara formal, tetapi juga diimplementasikan secara efektif di lapangan.

Reformasi BUMN dan Lahirnya Danantara

Menko Airlangga memaparkan langkah-langkah reformasi struktural yang telah dilakukan Indonesia terhadap BUMN. Melalui strategi restrukturisasi dan pelepasan aset, Indonesia berhasil merampingkan jumlah BUMN dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.

Sebagai bagian dari upaya reformasi ini, Indonesia telah mendirikan sebuah *Sovereign Wealth Fund* baru yang diberi nama Danantara. Dana ini beroperasi layaknya dana investasi swasta, bertanggung jawab atas manajemen aset serta investasi domestik dan internasional. Saat ini, Danantara sedang dalam proses penerbitan obligasi internasional untuk menarik modal asing.

Ke depannya, Indonesia akan berkolaborasi dengan Swiss untuk mengadopsi praktik tata kelola terbaik (*best practices*) global. Kolaborasi ini akan memanfaatkan keahlian dan pengalaman Swiss dalam mengelola pasar modal yang sudah matang.

Menjaga Ketahanan Energi dan Pangan di Tengah Badai Geopolitik

Menanggapi ketidakstabilan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi, Indonesia dan Swiss sepakat untuk memperkuat koordinasi dalam menjaga ketahanan energi dan pangan.

Indonesia menunjukkan keberhasilannya dalam mendiversifikasi sumber energi. Saat ini, pasokan minyak dari Arab Saudi hanya berkontribusi sebesar 20%, sementara sisanya dipenuhi dari negara-negara Afrika seperti Nigeria, Angola, Gabon, serta dari Amerika Serikat.

Di sektor pangan, Indonesia telah mencapai tingkat kemandirian yang signifikan, yang berkontribusi pada stabilitas harga jangka panjang. Selain itu, Indonesia juga telah berhasil mengekspor pupuk ke negara-negara tetangga, termasuk Australia.

Swiss sendiri juga terus berupaya menjaga cadangan energi dan pangan strategis. Negara tersebut memiliki cadangan minyak untuk kebutuhan 4 hingga 4,5 bulan, serta stok pupuk nasional yang kuat.

Dalam upaya memperkuat fondasi energi masa depan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia bersama SECO (Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi) akan memperluas kerja sama teknologi. Hal ini diwujudkan melalui MoU pengembangan teknologi *smart grids* dan teknologi penyimpanan baterai (*battery storage*), yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi energi surya di Indonesia.

Pertemuan ini menegaskan bahwa hubungan dan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Swiss telah melampaui kemitraan diplomatik biasa. Kedua negara menunjukkan komitmen kuat untuk tidak hanya merespons tantangan jangka pendek, tetapi juga untuk menyusun strategi mitigasi bersama dan menetapkan target-target pencapaian (*milestones*) yang konkret demi menghadapi ketidakpastian global di masa depan.