DermayuMagz.com – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2025. Acara ini mengusung tema “One Purpose, One Energy: Strengthening Energy Independence” dan berlangsung di Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026. RUPST ini menjadi ajang penting bagi PHR untuk menegaskan kembali komitmennya dalam memperkuat kemandirian energi nasional.
Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kinerja operasional yang berkelanjutan. Selain itu, penguatan tata kelola perusahaan dan implementasi program-program berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan juga menjadi fokus utama.
Sepanjang tahun 2025, PHR berhasil mencatatkan berbagai prestasi signifikan. Pencapaian ini semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu pilar utama produksi minyak dan gas (migas) nasional. PHR melaporkan rata-rata produksi minyak sebesar 151,55 ribu barel minyak per hari (MBOPD).
Produksi gas yang dicatat mencapai 33,48 juta standar kubik feet per hari (MMSCFD). Jika diakumulasikan, total produksi setara migas yang berhasil diraih PHR mencapai 157,33 ribu barel minyak ekuivalen per hari (MBOEPD).
Perusahaan juga secara konsisten menjalankan program pengembangan lapangan yang ambisius. Hal ini mencakup pengeboran 1 sumur eksplorasi, serta 505 sumur eksploitasi. Selain itu, dilakukan pula 319 sumur Kerja Ulang Pindah Lapisan (KUPL).
Atas seluruh upaya yang telah dilakukan sepanjang tahun 2025, PHR berhasil membukukan capaian Key Performance Indicator (KPI) yang diaudit sebesar 106,69 persen. Angka ini menjadi bukti nyata efektivitas strategi operasi perusahaan.
Selain itu, capaian tersebut juga mencerminkan keberhasilan PHR dalam menjaga keberlanjutan produksinya. Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin, menyatakan bahwa tahun 2025 merupakan periode yang menunjukkan ketangguhan perusahaan.
PHR berhasil menjaga kinerja operasionalnya dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan. “Berbagai pencapaian yang diraih PHR sepanjang tahun 2025 merupakan prestasi yang membanggakan sekaligus bukti kemampuan perusahaan menjalankan peran strategis sebagai salah satu kontributor utama produksi migas nasional,” ujar Arifin.
Untuk terus mendukung ketahanan energi nasional, PHR berupaya memperkuat operasionalnya. Penerapan teknologi mutakhir dan digitalisasi menjadi salah satu kunci utamanya. Selain itu, penguatan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) juga dilakukan secara terintegrasi.
Semua upaya ini bertujuan untuk memastikan pasokan energi domestik tetap andal, aman, stabil, dan berkelanjutan. Implementasi strategi ini terlihat jelas dalam berbagai pencapaian operasional dan inovasi perusahaan sepanjang 2025.
Inovasi tersebut meliputi peningkatan produksi migas, penambahan sumur-sumur baru, penemuan sumber daya hidrokarbon, hingga pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Teknologi EOR ini bertujuan untuk mengoptimalkan produktivitas lapangan migas yang sudah matang.
Kinerja Keuangan yang Solid
Berbagai inisiatif yang telah dijalankan PHR merupakan bagian dari upaya berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menjaga tingkat produksi migas. Selain itu, peningkatan efisiensi operasi dan pemeliharaan peran sebagai produsen minyak terbesar di Indonesia juga menjadi prioritas.
Kinerja operasional yang kuat ini pada akhirnya menghasilkan pencapaian keuangan yang positif. Pada tahun 2025, PHR berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 3,24 miliar. Angka ini setara dengan Rp58,24 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah sebesar 17.980.
Pendapatan ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana pendapatan usaha tercatat sebesar US$ 3,05 miliar atau Rp 54,8 triliun. Laba bersih tahun berjalan yang berhasil diraih PHR mencapai US$ 898,72 juta. Nilai ini setara dengan Rp16,1 triliun.
Angka laba bersih ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Nilai ini tidak hanya bermanfaat bagi para pemegang saham, tetapi juga mendukung kontribusi sektor hulu migas terhadap perekonomian nasional.
Total aset perusahaan tercatat sebesar US$ 5,94 miliar, yang setara dengan Rp106,7 triliun. Sementara itu, total ekuitas perusahaan mencapai US$ 3,44 miliar atau Rp61,8 triliun. Di bidang keselamatan, PHR juga menorehkan capaian gemilang.
Perusahaan mencatat 69.267.011 jam kerja selamat sepanjang tahun 2025. Pencapaian ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam membangun budaya keselamatan yang kuat di seluruh wilayah operasinya.
Sejalan dengan komitmen keselamatan, PHR juga terus memperkuat praktik pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Komitmen ini dibuktikan dengan perolehan tiga penghargaan PROPER Hijau. Penghargaan ini diraih untuk wilayah operasi Bekasap Rokan, Duri Steam Flood, dan Minas Siak.
Komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan juga diwujudkan melalui pelaksanaan program Community Involvement and Development (CID). Dengan realisasi anggaran sebesar US$ 1,69 juta atau Rp 30,37 miliar, PHR menjalankan 23 program.
Program-program ini dihadirkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Mulai dari upaya pelestarian gajah Sumatra, pencegahan stunting, pengembangan pendidikan vokasi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Penguatan Aspek Tata Kelola
Pada aspek tata kelola, PHR terus menunjukkan perbaikan yang berkelanjutan. Hal ini dibuktikan melalui Asesmen Good Corporate Governance (GCG) yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Penilaian ini dilakukan untuk tahun buku 2025.
Dalam asesmen tersebut, PHR berhasil mencatatkan skor 80,791, yang dikategorikan sebagai predikat baik. Skor ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan asesmen BPKP sebelumnya.
“Pertumbuhan pendapatan dan laba, keberhasilan program pengeboran, capaian keselamatan kerja, penguatan tata kelola, hingga berbagai program keberlanjutan menjadi fondasi penting bagi PHR,” tambah Arifin.
Sejalan dengan visi untuk menjadi perusahaan hulu migas nasional kelas dunia, PHR terus mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh aspek bisnisnya. Hal ini dilakukan melalui tiga pilar utama. Ketiga pilar tersebut adalah penerapan tata kelola perusahaan yang baik, pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, serta pelaksanaan tanggung jawab sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selama tahun 2025, PHR menerima berbagai apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya adalah penghargaan dari Kementerian Keuangan sebagai KKKS Terbaik dengan Tingkat Optimalisasi Aset Terbesar Tahun 2024.
Selain itu, PHR juga dinobatkan sebagai KKKS Terbaik Kedua dengan Tingkat Pengelolaan Aset Teraktif Tahun 2024. Perusahaan juga meraih predikat “Trusted Company” pada ajang Corporate Governance Perception Index (CGPI).
Penghargaan Silver pada Bisnis Indonesia Social Responsibility Awards (BISRA) juga diraih berkat program Desa Energi Berdikari. Pada tahun 2025, PHR berhasil mempertahankan sertifikasi Sistem Manajemen Terintegrasi.
Sertifikasi tersebut mencakup ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, dan ISO 45001:2018. Perusahaan juga memperoleh resertifikasi ISO 37001:2016 untuk Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).
Berbagai pencapaian ini didukung oleh tata kelola perusahaan yang kuat dan pengelolaan keuangan yang akuntabel. Hal ini tercermin dari hasil audit independen yang menyatakan bahwa laporan keuangan PHR disajikan secara wajar. Penyajian laporan keuangan tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Atas kinerja yang ditunjukkan, laporan keuangan PHR kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini ini diberikan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwanto Susanti dan Surja, yang merupakan firma anggota dari Ernst & Young.
Melalui berbagai pencapaian di sektor operasional, keuangan, keselamatan, keberlanjutan, dan tata kelola sepanjang tahun 2025, PHR semakin memperkuat posisinya. Perusahaan ini telah membuktikan diri sebagai salah satu produsen migas utama nasional.
Dengan dukungan inovasi, teknologi, dan kolaborasi yang berkelanjutan, PHR akan terus berupaya menciptakan nilai tambah bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan. Upaya ini juga berkontribusi pada terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.






