DermayuMagz.com – Pendiri ByteDance, perusahaan induk dari platform media sosial populer TikTok, Zhang Yiming, kini menduduki posisi sebagai orang terkaya kedua di Asia. Peningkatan pesat dalam kekayaannya ini didorong oleh lonjakan valuasi ByteDance, seiring dengan kemajuan signifikan perusahaan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurut laporan dari the Business Times pada Kamis, 4 Juni 2026, kekayaan bersih Zhang Yiming telah mencapai US$ 92,8 miliar atau setara dengan Rp 1.665 triliun, dengan asumsi kurs US$ 1 terhadap rupiah sebesar Rp 17.950. Angka ini menempatkannya sebagai orang terkaya di China berdasarkan Bloomberg Billionaires Index.
Sejak pertama kali dilacak oleh Bloomberg pada Maret 2019, ketika kekayaannya baru mencapai US$ 13 miliar atau Rp 233,37 triliun, kekayaan Zhang Yiming telah meningkat tujuh kali lipat. Pertumbuhan eksponensial ini menegaskan dominasi ByteDance di lanskap teknologi global.
Lonjakan kekayaan Zhang Yiming ini tidak terlepas dari kesuksesan dua produk utama ByteDance. Pertama, aplikasi video pendek TikTok terus mendominasi pasar global, menarik miliaran pengguna. Kedua, chatbot AI Doubao yang diluncurkan di Tiongkok telah berhasil mengumpulkan lebih dari 300 juta pengguna bulanan, menjadikannya salah satu yang paling populer di negara tersebut.
ByteDance juga telah mengambil langkah strategis dengan mentransfer sebagian bisnisnya di Amerika Serikat kepada investor lokal pada awal tahun 2026. Langkah ini diambil untuk merespons kekhawatiran politik dan regulasi yang berkembang di AS.
“Kenaikan valuasi ini mencerminkan fundamental perusahaan yang kuat dan keberhasilan aplikasi-aplikasinya seperti Doubao di Tiongkok,” ujar Amy Lin, seorang analis dari Capital Securities yang berbasis di Shanghai.
Ia menambahkan bahwa perkembangan bisnis di Amerika Serikat kemungkinan tidak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap valuasi perusahaan secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan ketahanan dan diversifikasi bisnis ByteDance.
Indeks Miliarder Bloomberg sebelumnya menerapkan diskon risiko sebesar 25 persen pada valuasi ByteDance. Penyesuaian ini dilakukan setelah Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan undang-undang pada Maret 2024 yang berpotensi melarang operasi TikTok di negara tersebut jika pemiliknya dari Tiongkok tidak menjual aplikasinya.
Namun, diskon tersebut kemudian diturunkan menjadi 10 persen pada 2 Juni 2026. Penyesuaian ini mencerminkan penyelesaian penjualan bisnis di AS serta valuasi pasca-pemisahan pertama yang diberikan oleh investor institusional dalam pengajuan peraturan pada akhir Mei 2026.
Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa kekayaan Zhang Yiming melonjak lebih dari US$ 24 miliar atau Rp 430,84 triliun. Peningkatan ini didasarkan pada valuasi yang diperoleh dari investor terkemuka seperti BlackRock, Fidelity Investments, dan T Rowe Price Group, serta valuasi yang diberikan oleh HSG dan General Atlantic pada bulan sebelumnya.
Hingga berita ini diturunkan, ByteDance belum memberikan komentar resmi terkait dengan laporan ini.
Siapa Orang Terkaya di Asia?
Dengan pergeseran posisi ini, pendiri Reliance Industries, Mukesh Ambani, turun ke peringkat ketiga orang terkaya di Asia, menurut indeks Bloomberg. Kekayaan bersihnya saat ini tercatat sebesar US$ 86,9 miliar atau sekitar Rp 1.560 triliun.
Sementara itu, Gautam Adani, seorang taipan industri asal India, masih mempertahankan posisi teratas sebagai orang terkaya di Asia. Kekayaannya mencapai US$ 117,4 miliar atau setara dengan Rp 2.107 triliun.
ByteDance, sebagai perusahaan swasta paling ternama di China, terus menunjukkan performa impresif. Kesuksesan Doubao, yang bahkan mulai menjajaki model berlangganan berbayar di pasar Tiongkok yang cenderung enggan membayar untuk layanan daring, semakin memperkuat posisinya.
Perusahaan ini secara konsisten disebut-sebut sebagai kandidat utama untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) di masa mendatang. Citra positif perusahaan tetap terjaga bahkan setelah operasi TikTok di AS dialihkan kepada konsorsium yang dipimpin oleh Oracle, Silver Lake, dan perusahaan investasi MGX.
Langkah ini berhasil mengakhiri ketidakpastian politik dan regulasi yang sebelumnya membayangi TikTok di Amerika Serikat, terutama terkait isu keamanan nasional.
Kecerdasan Buatan Menjadi Taruhan Besar
Kini, ByteDance tampaknya menaruh fokus strategisnya pada pengembangan kecerdasan buatan. Perusahaan dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk menginvestasikan dana hingga US$ 70 miliar atau sekitar Rp 1.256 triliun pada tahun 2026. Investasi besar ini bertujuan untuk memantapkan posisinya sebagai pemimpin di pasar AI Tiongkok dan bersaing dengan pemain utama AS di kancah internasional.
Sebagian besar dari investasi ini diproyeksikan akan didanai oleh keuntungan perusahaan yang diperkirakan mencapai US$ 50 miliar atau Rp 897,60 triliun pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang solid bagi ByteDance.
“Menghilangkan bayang-bayang AS membuka peluang untuk peningkatan peringkat entitas ByteDance yang tersisa,” ujar Ke Yan, seorang analis teknologi yang berbasis di Singapura dari DZT Research.
Ia menambahkan bahwa meskipun ada penyesuaian valuasi, fundamental bisnis ByteDance tetap kuat. Hal ini membuat valuasi perusahaan masih terlihat menarik jika dibandingkan dengan kinerja fundamentalnya.
Pergeseran peringkat kekayaan di Asia ini menunjukkan dinamika pasar teknologi global yang terus berubah. Zhang Yiming, melalui ByteDance dan TikTok, telah membuktikan kemampuannya untuk berinovasi dan menciptakan nilai yang signifikan di era digital.






