Bioenergi Berpotensi Buka 150 Ribu Lapangan Kerja

Bisnis7 Dilihat

DermayuMagz.com – Pengembangan bioenergi di Indonesia berpotensi besar untuk menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja baru dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan. Hal ini disampaikan oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa pemanfaatan biomassa secara masif dalam sektor ketenagalistrikan akan memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan.

Menurutnya, implementasi biomassa hingga 10 juta ton per tahun pada pembangkit listrik dapat menghasilkan nilai ekonomi mencapai Rp11 triliun. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada reduksi emisi sekitar 12 juta ton CO2.

Hokkop menekankan bahwa bioenergi merupakan salah satu solusi transisi energi yang dapat diimplementasikan dengan cepat. Program *co-firing* di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi salah satu cara efektif untuk menggantikan sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa.

Biomassa yang digunakan berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, dan limbah organik lainnya. Pendekatan ini memungkinkan penurunan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional.

Saat ini, PLN telah menerapkan program *co-firing* biomassa di 52 PLTU yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 2025, pemanfaatan biomassa tercatat mencapai sekitar 2,35 juta ton, yang berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen.

PLN telah memanfaatkan setidaknya 14 jenis biomassa dengan nilai kalor rata-rata 3.152 kkal per kg. Jenis biomassa tersebut meliputi cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang telah diolah menjadi bahan bakar alternatif.

Potensi Biomassa

Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun. Potensi ini terkonsentrasi di berbagai wilayah, dengan Sumatera menyumbang 42,8 juta ton, Kalimantan 18,9 juta ton, dan Jawa 13,1 juta ton per tahun.

Meskipun potensinya besar, tingkat pemanfaatan bioenergi di Indonesia masih tergolong rendah. Konsumsi bioenergi per kapita saat ini baru mencapai 0,35 gigajoule per tahun, jauh di bawah potensi yang tersedia sebesar 6,5 gigajoule per kapita per tahun.

Hokkop menyatakan bahwa tantangan utama adalah membangun ekosistem pasok yang terintegrasi. Hal ini penting agar potensi biomassa dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain pemanfaatan biomassa, PLN EPI juga sedang mengembangkan bioenergi berbasis biogas dan biohidrogen. Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan gas metana dari limbah cair kelapa sawit (POME).

Gas metana ini dapat diolah menjadi sumber energi alternatif pengganti gas alam. Dengan menangkap dan memanfaatkan metana, selain menghasilkan energi bersih, upaya ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca yang signifikan.

Kembangkan Sistem Digital

Untuk mendukung operasional dan rantai pasok biomassa, PLN EPI tengah mengembangkan sistem digitalisasi yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI). Sistem ini akan memantau seluruh rantai pasok biomassa dan operasional *co-firing* di seluruh Indonesia.

Pengembangan biomassa tidak hanya berfokus pada penyediaan energi, tetapi juga membuka berbagai peluang usaha baru. Sektor hulu yang terlibat mencakup pengumpulan bahan baku, pengolahan biomassa, logistik, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan.

PLN EPI secara aktif mendorong partisipasi masyarakat, petani, kelompok usaha desa, koperasi, hingga generasi muda untuk terlibat dalam rantai pasok biomassa nasional.

Transaksi bisnis biomassa nasional menunjukkan tren positif dan menjadi peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat.