Minyak Naik Drastis Pasca Serangan Kapal Tanker Selat Hormuz

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Pasar energi global kembali bergejolak menyusul insiden penyerangan terhadap sebuah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Peristiwa ini sontak memicu kenaikan harga minyak dunia, menyoroti kembali ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang krusial bagi pasokan energi global.

Harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Selasa, 7 Juli 2026. Kenaikan ini terjadi pasca serangan yang dilancarkan oleh Iran terhadap kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar, Al-Rekayyat, saat berada di dekat jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Mengutip laporan dari CNBC, insiden ini menegaskan kembali kerentanan perjanjian damai sementara yang baru-baru ini disepakati antara Amerika Serikat dan Iran. Perjanjian tersebut dirancang untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir empat bulan, namun serangan ini menimbulkan keraguan atas stabilitasnya.

Harga minyak Brent berjangka ditutup menguat 3% menjadi US$ 74,16 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah WTI berjangka juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 2,8% mencapai US$ 70,44 per barel. Lonjakan ini menggambarkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat eskalasi ketegangan di wilayah tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al Ansari, secara tegas mengonfirmasi serangan tersebut. Ia menyatakan bahwa Iran menyerang kapal tanker Al-Rekayyat yang sedang melintas di dekat Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan di media sosial, di mana Qatar menyerukan agar Iran segera menghentikan tindakan yang dapat mengancam keamanan regional dan navigasi internasional.

“Kami menuntut agar Republik Islam Iran segera menghentikan semua praktik yang merusak keamanan regional atau mengancam keselamatan navigasi maritim internasional,” ujar al Ansari, seraya menambahkan bahwa Qatar bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi hukum dari serangan tersebut.

Konfirmasi dari pihak Qatar ini menyusul laporan sebelumnya dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO). UKMTO melaporkan bahwa sebuah kapal tanker dihantam oleh proyektil tak dikenal pada hari Senin, sekitar 8 mil laut di sebelah timur Limah, Oman. Kejadian ini merupakan bagian dari layanan peringatan keamanan maritim yang mereka sediakan.

Laporan insiden terpisah dari UKMTO juga menyebutkan adanya kapal tanker lain yang melintasi Selat Hormuz pada hari Selasa dan diduga dihantam oleh proyektil tak dikenal, yang mengakibatkan kerusakan struktural. Serangkaian insiden ini semakin meningkatkan kewaspadaan di kalangan pelaku pasar energi.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk perdagangan minyak. Sekitar sepertiga dari total minyak yang dikirimkan melalui laut diangkut melalui selat sempit ini. Oleh karena itu, setiap gangguan atau ketegangan di area ini berpotensi besar memengaruhi pasokan dan harga minyak global.

Sebelumnya, Washington dan Teheran telah menandatangani nota kesepahaman pada bulan lalu, yang diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengakhiran perang yang telah berlangsung selama hampir empat bulan. Namun, serangan terbaru ini memberikan pukulan telak terhadap upaya perdamaian tersebut.

Menariknya, setelah jam perdagangan reguler ditutup, harga minyak justru kembali menunjukkan tren kenaikan yang lebih tajam. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat mencabut izin yang sebelumnya diberikan kepada Iran untuk mengekspor minyaknya. Sebuah pejabat AS mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman yang ada dengan Iran sepenuhnya bergantung pada kinerja dan kepatuhan.

Akibat pencabutan izin ekspor minyak tersebut, harga minyak Brent melonjak 5,6% menjadi US$ 76,04. Sementara itu, harga minyak WTI juga mengalami lonjakan signifikan sebesar 5,4%, mencapai US$ 72,25.

Para analis pasar memandang situasi di sekitar Selat Hormuz masih sangat tidak stabil. Meskipun ada upaya negosiasi untuk meredakan konflik, ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga energi. Kebutuhan kedua belah pihak untuk meredakan konflik, terutama menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November, menjadi pertimbangan penting.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memiliki kepentingan untuk menjaga harga minyak tetap rendah demi stabilitas ekonomi domestik. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran berupaya mendapatkan keuntungan finansial dari potensi pencabutan sanksi. Keseimbangan kepentingan inilah yang terus memengaruhi dinamika pasar minyak global.

Peristiwa ini kembali menegaskan betapa rapuhnya stabilitas pasokan energi global, yang sangat bergantung pada situasi geopolitik di kawasan-kawasan strategis seperti Timur Tengah. Pasar akan terus memantau perkembangan selanjutnya antara Amerika Serikat dan Iran, serta dampaknya terhadap harga minyak di masa mendatang.