Ketika Sukarno Berpenampilan Seperti Gadis Cantik Jong Java

News1 Dilihat

DermayuMagz.com – Dalam perjalanan hidupnya yang penuh warna, Sukarno muda pernah menjalani peran unik yang mungkin tidak banyak diketahui. Saat masih aktif sebagai anggota Jong Java di Surabaya, ia tidak hanya terlibat dalam kegiatan sosial, tetapi juga menunjukkan bakatnya dalam seni pertunjukan.

Pengalaman ini menjadi salah satu bagian dari proses panjang yang membentuk dirinya menjadi pemimpin besar bangsa Indonesia. Surabaya merupakan kota yang menyimpan banyak kenangan bagi Sukarno. Di sana, ia mengenyam pendidikan di Hoogere Burger School (HBS) dan mulai terpapar berbagai ide yang kelak memengaruhi pemikirannya.

Pada usia 16 tahun, Sukarno mulai merintis jalan perjuangannya dengan mendirikan organisasi Tri Koro Dharmo. Organisasi pelajar ini bertujuan untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaan di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan sosial.

Selanjutnya, Sukarno bersama rekan-rekannya mengembangkan organisasi tersebut menjadi Jong Java. Organisasi ini memiliki visi yang lebih luas dengan semangat kebangsaan sebagai pondasi utamanya. Aktivitas di Jong Java tidak hanya berfokus pada diskusi politik, tetapi juga upaya pelestarian kebudayaan Nusantara.

“Jong Java, sebagai langkah kedua, mempunyai dasar yang lebih luas. Begitu pun pergaulan sosial kami berlandaskan kebangsaan. Kami membaktikan diri untuk memperkembangkan kebudayaan asli, seperti mengajarkan tari Jawa atau mengajar bermain gamelan,” ungkap Sukarno dalam otobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat’.

Selain kegiatan kebudayaan, Jong Java juga aktif dalam berbagai aksi sosial. Sukarno dan anggota lainnya sering mengunjungi kampung-kampung untuk menggalang dana bagi sekolah atau membantu korban bencana alam. Melalui kegiatan ini, mereka belajar pentingnya kepedulian terhadap sesama.

“Kami mengadakan pertunjukan di tempat-tempat yang memerlukan pertolongan dan menutupi biaya-biaya itu dari hasil penjualan tiket masuk,” jelas Sukarno.

Dalam pementasan yang diadakan oleh Jong Java, Sukarno muda pernah mengalami momen yang cukup menarik. Ia mengaku memiliki paras yang sangat rupawan, bahkan seringkali disalahartikan sebagai seorang gadis karena wajahnya yang halus.

“Harus kuakui sekarang bahwa tampangku di masa muda sangat tampan sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanya sedikit wanita terpelajar pada waktu itu, tidak banyak anak gadis yang menjadi anggota kami,” cerita Sukarno.

Kondisi fisiknya yang dianggap menyerupai perempuan ini membuatnya kerap mendapatkan peran sebagai tokoh wanita dalam berbagai pementasan. Ia bahkan harus berdandan layaknya seorang perempuan.

“Dan potonganku lebih banyak menyerupai seorang perawan cantik sehingga kalau Jong Java mengadakan pertunjukan, mana kalau diserahi memainkan peran wanita yang naif itu. Aku betul-betul membedaki pipi dan memerahkan bibirku,” kenang Sukarno.

Kesungguhan Sukarno dalam memerankan tokoh perempuan tidak main-main. Ia bahkan melakukan persiapan matang untuk penampilannya di atas panggung. Ia rela membeli roti manis untuk diselipkan di bajunya agar terlihat memiliki lekuk tubuh seperti perempuan.

“Akan kuceritakan sesuatu kepadamu. Aku tidak tahu bagaimana pendapat orang asing tentang seorang presiden yang mau menceritakan hal yang demikian itu. Tetapi sungguh pun demikian, aku akan menceritakannya juga. Alu membeli dua potong roti maanis, roti bulat seperti roti gulung, dan kuisikan ke dalam bajuku. Ditambah dengan bentuk badanku yang langsing, setiap orang mengatakan bahwa aku kelihatan sangat cantik. Untunglah dalam peranku ini tidak termasuk adegan mencium laki-laki,” tuturnya.

Setelah pertunjukan selesai, Sukarno tak menyia-nyiakan bekalnya. Roti yang ia gunakan sebagai properti itu pun ia nikmati.

“Selesai pertunjukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu saja karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam baju dan kumakan,” katanya sambil tertawa.

Pengalaman di atas panggung ini juga memberikan dampak positif bagi Sukarno. Ia menyadari bahwa dirinya memiliki bakat besar untuk tampil di depan umum.

“Sambil memandangku di atas panggung para penonton pun memberikan komentarnya, bahwa aku memperlihatkan bakat yang besar untuk tampil di muka umum,” kata Sukarno.

Bukan Instan, Sukarno Dibentuk oleh Proses Panjang

Sejarawan Adrian Perkasa menyoroti pengalaman unik Sukarno ini sebagai bukti bahwa pembentukan karakternya tidak terjadi secara instan. Ia menilai bahwa pengalaman seperti ini membantu Sukarno muda mengembangkan berbagai kemampuan penting.

Menurut Adrian, keterlibatan Sukarno dalam organisasi seperti Jong Java memberinya kesempatan untuk menemukan bakatnya dalam berbicara di depan publik, membangun empati, serta memahami berbagai peran dalam kehidupan bermasyarakat. Pengalaman-pengalaman kecil ini menjadi fondasi kuat bagi perjalanan hidupnya kelak.

“Sukarno muda memang belajar dari bawah, bukan dari kelompok yang elite, kelas menengah. Karena ayahnya seorang guru bukan priyayi secara keturunan, tapi yang disebut bangsawan pikiran, kelas baru yang muncul setelah adanya pendidikan modern karena masuk dalam sistem administrasi modern, karena mereka menjadi motor-motor penting dalam suatu sistem negara modern. Bukan menjadi bangsawan karena berbekal darah atau privilege dari keluarga, tapi Sukarno dan banyak pendiri bangsa kita berasal dari bangsawan pikir,” jelas Adrian kepada Liputan6.com.

Dosen Universitas Airlangga ini berpendapat bahwa kisah Sukarno muda menjadi pengingat berharga. Ia menekankan bahwa pencapaian besar selalu lahir dari proses yang panjang dan penuh perjuangan. Generasi masa kini perlu menyadari hal ini.

Adrian menambahkan, mereka yang memiliki akses pendidikan, jaringan, atau berbagai kemudahan lain seharusnya dapat berbuat lebih banyak dan lebih besar dibandingkan Sukarno dan tokoh bangsa pada masa itu, mengingat perbedaan kondisi dan kesempatan.

“Ini yang menjadi bagian penting menurut saya, kita harus lihat, susah ditiru untuk generasi kita hari ini. Apabila kita tidak punya privilege agak susah. Ini yang harus kita pelajari tapi juga kita sadari, apabila kita punya privilege lebih, kita harusnya melakukan lebih dari apa yang dilakukan Sukarno dan generasinya,” pungkasnya.