Penataan Kawasan Laut Batang: Fokus pada Mangrove dan Karbon Biru

Bisnis1 Dilihat

DermayuMagz.com – PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang merupakan bagian dari Holding BUMN Danareksa, menjalin kerja sama strategis dengan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kerjasama ini bertujuan untuk melakukan penataan kawasan pesisir dan pemanfaatan ruang perairan di wilayah Batang, Jawa Tengah.

Langkah ini merupakan upaya penting untuk menyelaraskan pengembangan kawasan industri dengan upaya pelestarian ekosistem laut serta pemberdayaan masyarakat yang hidup di pesisir. Penandatanganan perjanjian kerja sama ini dilakukan oleh Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP, Kartika Listriana, dan Pelaksana Tugas Direktur Utama KITB, Indri Septa Respati. Acara tersebut juga disaksikan langsung oleh Direktur Utama Holding BUMN Danareksa, Ngurah Wirawan.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan strategis yang lebih luas antara KKP dan PT Danareksa (Persero) yang telah terjalin sejak Juli 2025. Hal ini menunjukkan komitmen jangka panjang kedua institusi dalam mengelola wilayah pesisir.

Direktur Utama Holding BUMN Danareksa, Ngurah Wirawan, menekankan bahwa kolaborasi ini adalah wujud nyata dari integrasi pembangunan industri dengan upaya pelestarian lingkungan. Ia menyatakan bahwa kawasan industri yang baik seharusnya turut serta menjaga garis pantai, ekosistem laut, dan masyarakat pesisir di sekitarnya.

“Peran kami sebagai Holding adalah menjadi orkestrator yang mempertemukan keahlian dan sumber daya, agar setiap pihak dapat memainkan perannya,” ujar Ngurah dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 6 Juni 2026. Pernyataannya menegaskan peran strategis Holding BUMN Danareksa dalam mengkoordinasikan berbagai elemen.

Melalui kesepakatan ini, kedua belah pihak akan berkolaborasi dalam empat area utama. Pertama, penataan ruang laut yang komprehensif. Kedua, rehabilitasi dan restorasi ekosistem pesisir, yang mencakup mangrove. Ketiga, penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor kelautan dan pesisir. Keempat, diseminasi kebijakan terkait kepada seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Program Karbon Biru

Salah satu fokus utama dari kerja sama ini adalah pengembangan program karbon biru. Program ini akan menitikberatkan pada perlindungan dan konservasi ekosistem pesisir, khususnya kawasan mangrove. Mangrove memiliki peran ganda yang sangat penting, yaitu sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam jumlah besar, serta sebagai benteng pertahanan alami yang melindungi wilayah daratan dari ancaman abrasi dan dampak buruk perubahan iklim.

Inisiatif ini juga merupakan bagian integral dari transformasi yang sedang dijalani oleh Holding BUMN Danareksa. Transformasi ini bertujuan untuk mengelola kawasan industri nasional secara terintegrasi melalui program Kawasan Industri Indonesia. Saat ini, Holding BUMN Danareksa telah mengelola tujuh kawasan industri yang membentang di atas lahan seluas total 7.800 hektare.

Kawasan industri yang dikelola ini telah menjadi rumah bagi lebih dari 1.600 tenant. Tenant-tenant tersebut berasal dari 25 negara berbeda, yang menunjukkan daya tarik dan skala internasional dari kawasan industri di Indonesia. Lebih lanjut, operasional di kawasan-kawasan ini telah berhasil menyerap tenaga kerja sekitar 300.000 orang.

Sementara itu, KITB sendiri merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional. Status ini diperkuat dengan penetapannya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang melalui Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2025. Kerja sama ini dinilai sangat selaras dengan agenda pembangunan nasional yang sedang digalakkan.

Agenda pembangunan tersebut mencakup penguatan kedaulatan maritim Indonesia, upaya berkelanjutan untuk melanjutkan hilirisasi industri, serta dorongan untuk pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, kerja sama ini memiliki dampak yang luas dan strategis bagi kemajuan bangsa.

“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan pembangunan yang selaras dengan pelestarian di Batang, agar model ini dapat direplikasi di kawasan-kawasan lain, sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian dan masyarakat,” tutup Ngurah. Pernyataan ini menggarisbawahi harapan agar keberhasilan di Batang dapat menjadi contoh dan dapat direplikasi di tempat lain.