Tragedi Dukono: Dampak Mendalam bagi Satu Desa

Berita7 Dilihat

DermayuMagz.com – Peristiwa tragis yang terjadi di lereng Gunung Dukono baru-baru ini telah menyatukan seluruh elemen masyarakat Desa Mamuya, Maluku Utara. Namun, di balik aksi solidaritas yang menggerakkan satu desa, tersimpan luka mendalam yang tak mudah terhapus.

Selama beberapa hari, Desa Mamuya menjadi pusat aktivitas bagi sekitar 150 personel gabungan dari TNI dan tim SAR. Mereka berjuang tanpa kenal lelah, bergerak antara pos komando di jalan utama desa dan markas di kaki Gunung Dukono yang berjarak kurang lebih 10 kilometer.

Di gunung itulah, pekan lalu, tiga pendaki kehilangan nyawa akibat erupsi dahsyat. Dua di antaranya adalah warga negara Singapura. Setelah jasad ketiga korban berhasil dievakuasi, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) pun resmi ditutup.

Pos komando yang sempat ramai kini kembali berfungsi normal sebagai Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono. Para pejabat yang sebelumnya sibuk memberikan arahan dan keterangan kepada media telah kembali ke kantor mereka di Ternate atau Ambon, kota yang berjarak ratusan kilometer dari Mamuya.

Yang tersisa bagi para relawan lokal adalah kenangan akan momen ketika desa terpencil mereka menjadi sorotan nasional, berada di tengah pusaran krisis salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.

“Saya tidak pernah melihat jenazah seperti itu,” ujar Jabir Abdul, seorang warga Mamuya berusia 42 tahun, menceritakan pengalamannya melihat jenazah dua pendaki asal Singapura kepada CNA. “Saya masih merinding kalau membicarakannya. Menakutkan.”

Jabir adalah salah satu dari sekitar 30 warga desa yang secara sukarela terlibat dalam upaya pencarian dan evakuasi korban. Mereka hadir memberikan dukungan moral dan tenaga di saat yang paling dibutuhkan.

Setiap pagi, para relawan ini menjadi yang pertama mendaki Gunung Dukono. Sebagian dari mereka bahkan menjadi bagian dari tim SAR gabungan yang berani mendekati bibir kawah gunung yang terus menerus memuntahkan material vulkanik.

Di sanalah, di lereng yang berbahaya itu, jenazah Angel Krishela Pradita (28) asal Indonesia, serta Timothy Heng Wen Qiang (30) dan Shahin Muhrez Abdul Hamid (27) asal Singapura ditemukan terkubur di bawah lapisan abu vulkanik yang masih panas.

Ketiga korban merupakan bagian dari rombongan 20 pendaki yang berada di dekat kawah Dukono saat erupsi besar terjadi pada hari Jumat lalu. Dari 20 pendaki tersebut, 17 orang berhasil menyelamatkan diri kembali ke base camp.

Jenazah Angel ditemukan pada Sabtu sore. Sementara itu, keberadaan Heng dan Shahin baru diketahui pada Minggu pagi, setelah pencarian intensif dilakukan.

Menurut keterangan dari tim pencari dan evakuasi, termasuk personel dari Badan SAR Nasional (Basarnas), keterlibatan aktif warga desa Mamuya dinilai sangat krusial dalam keberhasilan operasi pencarian ini.

Sebagian besar warga desa berprofesi sebagai buruh tani atau pekerja konstruksi. Keunggulan mereka terletak pada stamina, ketangguhan fisik, dan pengetahuan mendalam tentang medan Gunung Dukono. Faktor-faktor ini, menurut para petugas SAR, menjadi kunci penting dalam kelancaran upaya pencarian.

“Mereka sangat penting karena mereka mengenal medan dengan sangat baik. Mereka juga memiliki pemahaman yang baik dalam membaca situasi, kondisi, dan terutama karakteristik Gunung Dukono,” ujar Iwan Ramdani, Kepala Kantor Basarnas Ternate, yang memimpin langsung operasi pencarian, kepada CNA.

“Antusiasme mereka dalam membantu operasi juga luar biasa. Bahkan, warga yang tidak terlibat langsung dalam pencarian, turut memberikan kontribusi dalam hal logistik, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.”

## PUKULAN BAGI WARGA

Pada tanggal 8 Mei lalu, Gunung Dukono mengalami erupsi besar. Dengan lontaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian hingga 10.000 meter ke udara, letusan kali ini tercatat sebagai yang paling dahsyat dalam sejarah aktivitas Gunung Dukono sejak pencatatan pertama kali dilakukan pada tahun 1933.

Baca juga: James F. Sundah, Pencipta "Lilin&Lilin Kecil" Wafat di New York

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi Dukono sangat jarang memuntahkan abu hingga melampaui ketinggian 1.000 meter.

“Bahkan, warga yang sudah terbiasa menyaksikan erupsi Dukono pun terkejut dengan skala letusan pada 8 Mei itu,” kata Jabir, salah satu relawan. “Kami tidak menyangka akan separah itu.”

Ketika 17 pendaki yang selamat melaporkan bahwa tiga rekan mereka hilang, warga desa sudah memiliki firasat bahwa operasi ini akan menjadi misi evakuasi yang penuh tantangan, bukan sekadar pencarian biasa.

“Ini pertama kalinya ada korban tewas di bibir kawah Dukono, bahkan tiga orang dalam satu kali erupsi. Ini menjadi pukulan telak bagi kami, masyarakat setempat,” ungkap Sababil Pasaraja, 29, seorang warga Mamuya yang terlibat dalam upaya evakuasi, kepada CNA.

Bagi Sababil dan rekan-rekannya sesama warga desa, menyusuri lereng Dukono untuk mencari pendaki yang hilang bukanlah hal yang baru. Gunung Dukono sudah seperti halaman belakang rumah mereka, setiap punggungan, jalur hutan, dan rintangannya sudah sangat akrab.

Pencarian terakhir yang dibantu oleh warga desa terjadi pada tahun 2017. Saat itu, seorang pendaki berusia 17 tahun terpisah dari rombongannya dan dinyatakan hilang. Pendaki tersebut berhasil ditemukan 24 jam kemudian dalam kondisi selamat.

Warga juga kerap dimintai bantuan untuk menyisir lereng Dukono saat terjadi erupsi besar, seperti yang terjadi pada Agustus 2024 dan Maret 2026. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada pendaki yang terjebak atau membutuhkan pertolongan.

“Setiap kali Basarnas membutuhkan bantuan, warga desa selalu dengan senang hati membantu. Terkadang mereka (Basarnas) tidak bisa tiba dengan segera, jadi meminta kami untuk bergerak lebih dulu,” jelas Sababil kepada CNA.

Gunung Dukono termasuk dalam kategori gunung berapi yang sangat aktif. Sejak tahun 2008, statusnya telah ditetapkan sebagai siaga dua, yang berarti aktivitas vulkaniknya terus dipantau ketat. Otoritas terkait memberlakukan larangan beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari lereng gunung.

Namun, larangan ini tidak sepenuhnya efektif menghentikan para pendaki dan pencari sensasi untuk mendaki dan mendekati kawah. Beberapa dari mereka tetap nekat melakukan pendakian.

“Dukono memiliki dua jalur resmi, satu di Mamuya, dan satu lagi di desa tetangga, Ruko. Tetapi, ada banyak jalur lain yang bisa digunakan pendaki untuk naik ke gunung,” ungkap Sababil.

Seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik, status Gunung Dukono dinaikkan menjadi siaga tiga dari empat tingkatan pada tanggal 17 April. Radius larangan aktivitas pun diperluas menjadi 4 kilometer, yang secara efektif menutup seluruh akses pendakian ke gunung tersebut.

## MEDAN YANG SULIT

Meskipun sangat mengenal kondisi Gunung Dukono, para relawan penyelamat seperti Jabir dan Sababil tetap merasakan kesulitan saat harus melewati medan yang keras dan penuh tantangan. Jalur setapak yang licin, diperparah oleh hujan deras dan material vulkanik, semakin menambah beratnya upaya mereka.

Kabar baiknya, tim penyelamat sudah memiliki titik perkiraan lokasi korban. Hal ini berkat salah satu pendaki yang sempat mengaktifkan suar penanda lokasi (beacon) yang memancarkan sinyal darurat. Namun, kabar buruknya, sinyal tersebut berasal dari jarak sekitar 50 meter dari bibir kawah yang masih terus aktif memuntahkan material panas.

“Gunungnya masih terus erupsi dan memuntahkan abu panas serta batu seukuran mobil. Sangat menakutkan,” kata Hambali Diadi, 42, seorang warga Mamuya lainnya yang berada di garis depan operasi pencarian, kepada CNA.

Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Dukono, tim penyelamat harus bergerak cepat masuk dan keluar dari zona berbahaya setiap kali ada jeda singkat antar erupsi. Bahkan saat kondisi relatif aman, tim SAR masih menghadapi kesulitan untuk menemukan keberadaan korban di tengah pekatnya kabut abu vulkanik.

Meskipun harus berpacu dengan waktu, tim berhasil menemukan Angel, korban pertama, pada Sabtu lalu. “Kami menyisir lereng dan melihat ada bentuk yang menyerupai tubuh manusia di atas pasir. Setelah menyingkirkan pasirnya, ternyata benar itu adalah korban perempuan yang kami cari,” cerita Hambali.

Tim sempat berencana melanjutkan pencarian dua pendaki lainnya pada hari yang sama. Namun, aktivitas gunung kembali meningkat, memaksa mereka untuk segera turun demi keselamatan.

Keesokan paginya, tim kembali ke lokasi untuk melanjutkan pencarian. “Syukurlah, aktivitas gunung tidak seintens (pada hari Sabtu), sehingga kami bisa menemukan dua korban lainnya,” ujar Jabir dengan nada lega.

Para penyelamat menceritakan bahwa mereka menemukan serpihan tulang belulang yang terjepit di bawah bongkahan batu besar. Penemuan ini sesuai dengan kesaksian para penyintas, yang menyebutkan bahwa kedua korban tertimpa material vulkanik yang terlontar dari perut Gunung Dukono.

Meskipun aktivitas vulkanik mulai mereda pada hari Minggu, kondisi cuaca justru memburuk. “Hujannya sangat deras, kami sampai harus meminta tim untuk berteduh sejenak,” kata Iwan dari Basarnas.

Setelah melalui jalur yang licin dan berlumpur menuju pos komando, Basarnas secara resmi mengakhiri operasi pencarian dan menyatakan bahwa ketiga pendaki telah berhasil ditemukan.

## ‘TRAGEDI INI SEHARUSNYA BISA DIHINDARI’

Operasi penyelamatan ini telah menggerakkan seluruh elemen masyarakat Desa Mamuya, termasuk mereka yang tidak dapat berpartisipasi langsung dalam pencarian di lapangan.

“Kami membantu semampu kami,” ujar Gulit Sanda, 35, seorang petani yang membantu mengangkut peralatan, makanan, dan pasokan logistik menggunakan sepeda motor roda tiganya. Sepeda motor berban pacul merek Viar ini menjadi salah satu kendaraan yang mampu melintasi jalan tanah yang bergelombang dan licin menuju base camp.

Gulit menyampaikan bahwa peristiwa kali ini meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat. Hal ini terutama karena warga merasa seharusnya mereka dapat mencegah para korban untuk mendaki.

“Kami melihat para pendaki sehari sebelum erupsi terjadi (8 Mei). Mereka bahkan menyewa warga setempat untuk mengantar mereka ke base camp menggunakan sepeda motor roda tiga,” ungkapnya.

Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan tindak pidana kelalaian yang menyebabkan kematian. Sejauh ini, enam orang telah dimintai keterangan, termasuk pemandu pendaki, Reza Selang.

Reza, yang merupakan salah satu korban selamat dari erupsi, mengaku tidak mengetahui adanya larangan pendakian Gunung Dukono sejak tanggal 17 April. “Sebelum kami mendaki, saya menerbangkan drone untuk melihat kondisi kawah dan saat itu terlihat tenang,” kata Reza kepada CNA.

“Saya menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga korban dan memohon maaf. Saya akan bertanggung jawab penuh dan bersikap kooperatif dalam proses penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.”

Saat ini, polisi telah memberlakukan pencekalan terhadap Reza, yang merupakan warga Ternate, untuk meninggalkan wilayah Halmahera Utara.

Namun, kepada CNA, warga desa mengaku turut merasakan beban moral atas insiden yang terjadi di wilayah mereka. “Bagi kebanyakan orang di kampung, ada rasa tanggung jawab, rasa tidak enak, jika saja kemarin kita tidak bertindak seperti itu,” kata Hambali.

“Tragedi ini seharusnya bisa dihindari. Setelah kejadian ini, seluruh warga desa akan duduk bersama untuk memikirkan bagaimana cara mencegah agar hal serupa tidak terulang lagi. Kita tidak boleh lagi mentolerir orang yang tidak mematuhi larangan mendaki, apalagi sampai membantu mereka.”