DermayuMagz.com – Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan kekuatannya terhadap rupiah pada Jumat malam, 5 Juni 2026. Kurs dolar AS terhadap rupiah terpantau menyentuh angka 18.146.
Berdasarkan data Google Finance pada pukul 21.44 WIB, dolar AS tercatat berada di level 18.146, menandai kenaikan sebesar 0,47%. Data dari investing.com pada pukul 21.47 WIB juga menunjukkan angka yang serupa, yaitu 18.147.
Menjelang pukul 22.00 WIB, pergerakan dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 18.125. Pergerakan mata uang ini terjadi di pasar offshore, yang beroperasi selama 24 jam dan dikenal sebagai pasar valuta asing non-deliverable forward (NDF).
Pasar NDF ini umumnya digunakan oleh perusahaan untuk melakukan lindung nilai atau hedging terhadap risiko fluktuasi mata uang. Instrumen ini diperdagangkan untuk mata uang yang memiliki pembatasan konversi atau tidak dikonversi secara bebas.
Sementara itu, pada Jumat pagi, 5 Juni 2026, indeks dolar AS yang melacak pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama seperti yen dan euro, dilaporkan sedikit berubah ke angka 99,43. Indeks ini berada di jalur kenaikan 0,5 persen pada pekan tersebut.
Di pasar domestik, rupiah sempat menguat menjelang penutupan perdagangan akhir pekan. Mengutip Antara, rupiah tercatat naik 13 poin atau 0,07 persen menjadi 18.036 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di 18.049 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada hari yang sama juga menunjukkan pergerakan di angka 18.039 per dolar AS, sama seperti hari sebelumnya.
Sentimen Rupiah Jumat Ini
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada hari itu dipicu oleh respons positif pasar terhadap laporan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia menambahkan bahwa pelaku pasar memberikan apresiasi terhadap kinerja APBN meskipun masih dalam kondisi defisit. Kenaikan signifikan pada penerimaan pajak menunjukkan adanya penurunan ketergantungan pada utang.
Data per 31 Mei 2026 menunjukkan penerimaan pajak tumbuh sebesar 22,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai Rp 834,4 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 683,3 triliun. Hampir seluruh komponen penerimaan pajak menunjukkan pertumbuhan positif.
Penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan deposit PPh badan tercatat sebesar Rp 167,6 triliun, naik 23,9 persen. PPh orang pribadi dan PPh 21 mencapai Rp 123,1 triliun, dengan kenaikan 26 persen. Sementara itu, PPh final, PPh 22, dan PPh 26 terhimpun Rp 138,7 triliun, tumbuh 5,2 persen.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa pertumbuhan signifikan pada pajak penghasilan badan dan orang pribadi mencerminkan realitas pertumbuhan penghasilan di masyarakat.
Selain PPh, komponen pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) juga mencatat pertumbuhan yang kuat sebesar 41,3 persen, dengan total penerimaan Rp 315,7 triliun.
Faktor lain yang turut berkontribusi pada penguatan rupiah adalah ekspektasi adanya potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Kenaikan suku bunga ini diharapkan dapat meredam pelemahan rupiah.
Menurut Rully, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh BI akan memperlebar selisih bunga dengan suku bunga acuan The Fed, sehingga membuat rupiah kembali menarik bagi investor.






