Perekonomian Indonesia Dinilai Tetap Stabil

Bisnis10 Dilihat

DermayuMagz.com – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik, terutama didorong oleh permintaan dari dalam negeri.

Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa konsumsi pemerintah menunjukkan pertumbuhan yang tinggi. Hal ini sejalan dengan realisasi program-program prioritas dan percepatan belanja pemerintah, termasuk pemberian gaji ke-13 bagi ASN dan penyaluran bantuan sosial bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Beliau menyampaikan hal ini di Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026.

Konsumsi rumah tangga juga dilaporkan tetap stabil. Hal ini didukung oleh dampak percepatan konsumsi pemerintah dan tingkat keyakinan konsumen yang tetap baik.

Investasi pun menunjukkan peningkatan. Hal ini tercermin dari Purchasing Manager Index (PMI) yang berada di zona ekspansi, terutama didorong oleh investasi bangunan yang berkaitan dengan proyek pemerintah.

Sementara itu, dari sisi eksternal, Bank Indonesia menekankan pentingnya terus mendorong ekspor. Tujuannya adalah untuk memanfaatkan tingginya harga komoditas dunia, meskipun prospek pertumbuhan ekonomi global mengalami perlambatan.

Ke depannya, berbagai program stimulus yang dijalankan oleh pemerintah akan terus dioptimalkan. Program-program ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan domestik.

Sejalan dengan upaya tersebut, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakannya. Tujuannya adalah untuk memperkuat stabilitas ekonomi dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Hal ini juga mencakup penguatan kebijakan makroprudensial yang longgar serta kebijakan sistem pembayaran yang mendukung kegiatan ekonomi digital dan keuangan inklusif.

Inflasi

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan bahwa laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap terjaga. Hal ini terjadi meskipun ada peningkatan dampak gejolak global terhadap perkembangan harga di dalam negeri.

Inflasi IHK pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (year-on-year). Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,42% (yoy).

Perkembangan inflasi ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang sedikit meningkat menjadi 2,59% (yoy). Namun, inflasi inti tetap terkendali berkat konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi.

Inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) naik menjadi 2,07% (yoy). Kenaikan ini disebabkan oleh penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, serta avtur yang sejalan dengan kenaikan harga energi global.

Kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) juga mengalami kenaikan menjadi 6,24% (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh penurunan pasokan akibat gangguan produksi karena cuaca dan berakhirnya musim panen raya.

Perry Warjiyo menyatakan bahwa ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat respons bauran kebijakannya. Hal ini termasuk stabilisasi nilai tukar Rupiah untuk memitigasi kenaikan inflasi impor.

Tujuannya adalah agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5%±1% pada tahun 2026 dan 2027.

Bank Indonesia juga akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID). Sinergi ini dilakukan melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Langkah ini juga bertujuan untuk mengantisipasi risiko gangguan cuaca, seperti fenomena El Nino, terhadap harga pangan.