Potensi Lapangan Kerja Baru Saat Rupiah Melemah

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak selalu membawa dampak negatif bagi perekonomian nasional. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, berpendapat bahwa kondisi ini justru dapat menjadi keuntungan bagi industri yang berfokus pada ekspor.

Lebih lanjut, ia menilai pelemahan rupiah berpotensi membuka peluang peningkatan lapangan kerja di sektor-sektor yang produktif.

Menurut Eddy, depresiasi mata uang rupiah memang bisa menjadi beban bagi perusahaan yang sangat bergantung pada impor. Namun, di sisi lain, hal ini justru menguntungkan bagi perusahaan yang menggunakan modal rupiah namun mendapatkan pendapatan dalam dolar AS, terutama bagi para eksportir.

“Meskipun dapat dipersepsikan ‘turun kelas’ atau ‘kurang diminati’, sebenarnya depresiasi mata uang itu banyak manfaatnya jika negara mampu memanfaatkan momentum tersebut. Misalnya, produk negara itu menjadi lebih kompetitif untuk diekspor ke negara lain,” ujar Eddy saat dihubungi Liputan6.com pada Senin, 18 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa produk lokal menjadi lebih bersaing dibandingkan barang impor yang harganya cenderung naik akibat pelemahan rupiah.

Selain itu, Eddy melihat adanya dampak lanjutan yang positif terhadap sektor ketenagakerjaan. Peningkatan potensi ekspor, menurutnya, dapat mendorong penyerapan tenaga kerja pada sektor-sektor yang produktif.

“Lapangan kerja ada kemungkinan meningkat di sektor produktif karena peningkatan potensi ekspor,” katanya.

Eddy juga berpendapat bahwa biaya operasional di dalam negeri yang relatif lebih terjangkau dapat menarik masuknya modal asing dalam bentuk foreign direct investment (FDI).

“Lebih murahnya biaya beroperasi di dalam negeri menyebabkan derasnya capital inflow dari luar dalam bentuk foreign direct investment sehingga ekonomi bisa tumbuh dan lapangan kerja meningkat,” tambahnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua sektor ekonomi akan merasakan manfaat dari depresiasi rupiah. Industri yang sangat bergantung pada komponen impor diprediksi akan mengalami dampak negatif.

Menurut Eddy, sektor-sektor seperti migas, bahan makanan impor, mesin, hingga alat berat merupakan industri yang paling rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Dunia Usaha Waspadai Ancaman PHK

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia telah mengingatkan adanya potensi pengurangan tenaga kerja jika tekanan terhadap dunia usaha terus berlanjut, termasuk akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyatakan bahwa biaya operasional perusahaan semakin tertekan seiring dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat berujung pada penurunan omzet perusahaan hingga memicu rasionalisasi pekerja atau bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari,” kata Sarman kepada Liputan6.com pada Jumat, 15 Mei 2026.

Sarman menegaskan bahwa dunia usaha mendukung penuh langkah-langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap sektor usaha tidak semakin membesar.

“Kita mendukung penuh berbagai upaya, usaha, dan langkah pemerintah agar penguatan nilai tukar rupiah ini segera terjadi,” imbuhnya.

Sarman menjelaskan bahwa pelaku usaha mulai meningkatkan kewaspadaan sejak rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS. Oleh karena itu, ia sangat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor ketenagakerjaan.

Baca juga : Ciri Beras Berkutu yang Perlu Dibuang Demi Kesehatan Pencernaan

“Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” pungkasnya.