Pemerintah Diminta Tiru China untuk Jaga Nilai Rupiah

Bisnis2 Dilihat

DermayuMagz.com – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 18.049 per dolar Amerika Serikat (AS) telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Menanggapi kondisi ini, peneliti senior dari Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Ishak Razak, menyarankan agar pemerintah Indonesia mencontoh strategi yang diterapkan oleh China dalam menjaga nilai mata uangnya.

Menurut Ishak, China berhasil menjaga stabilitas yuan melalui penguatan fundamental industri dan akumulasi cadangan devisa yang signifikan. Langkah-langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat rupiah dalam jangka menengah hingga panjang, sekaligus memulihkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

“Kita berkaca ke China lah ya. Artinya dia kan relatif stabil, dan pemerintahnya bisa melakukan intervensi pasar. Menjaga agar yuan itu tetap kompetitif, karena mereka cadangan devisanya besar,” ujar Ishak di Jakarta, pada Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa China mampu mengumpulkan cadangan devisa dalam jumlah besar berkat surplus neraca perdagangan yang konsisten. Hal ini terjadi karena pertumbuhan industri manufaktur mereka yang solid selama dua hingga tiga dekade terakhir, di mana angka ekspor secara berkelanjutan melampaui impor.

“Itu semestinya yang menjadi concern pemerintah sekarang, bagaimana agar fondasi industri manufaktur domestik ini benar-benar diperkuat,” imbuh dia.

Ishak menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang sering terjadi ini sebagian besar dipengaruhi oleh faktor-faktor global yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, fokus utama seharusnya adalah pada penguatan ekonomi domestik.

“Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana ekonomi domestik ini bisa terus solid. Salah satunya lewat deindustrialisasi yang bisa menjadi fokus pemerintah. Karena ini efeknya akan sangat luas,” ungkapnya.

Kembalikan Kepercayaan Pasar

Lebih lanjut, Ishak Razak menekankan pentingnya pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini menjadi prioritas utama mengingat nilai tukar rupiah telah menyentuh rekor terendah baru.

Ia menggarisbawahi bahwa optimisme para pelaku pasar, khususnya investor di pasar modal, sangat krusial untuk dijaga. Tujuannya adalah untuk mencegah arus modal keluar (capital outflow) yang semakin deras, terutama dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

“Khususnya investor di pasar modal, ya. Karena bagaimanapun juga yang mempengaruhi secara fluktuatif itu kan di pasar modal, dari pasar saham ataupun di SBN,” kata Ishak.

Waspada Kebijakan yang Mengganggu Pasar

Selain itu, Ishak juga mengimbau pemerintah untuk lebih berhati-hati dalam merumuskan kebijakan yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar dan perdagangan.

Sebagai contoh, ia menyoroti kebijakan ekspor satu pintu yang diumumkan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Menurutnya, kebijakan semacam ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi para investor.

“Kayak kemarin ya, kebijakan seperti Danantara ekspor satu pintu. Menurut kami, kebijakan yang semisal ini ke depannya tidak lagi diumumkan. Karena kemudian menambah ketidakpercayaan atau kestabilan pasar,” ungkapnya.