DermayuMagz.com – Nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa, 9 Juni 2026, sore hari.
Berdasarkan data dari Google Finance yang dipantau pada pukul 17.14 WIB, dolar AS tercatat melemah terhadap rupiah, bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.983 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Selasa sore, nilai tukar rupiah secara keseluruhan menguat sebesar 130 poin atau setara dengan 0,71 persen. Rupiah ditutup pada posisi Rp 18.058 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 18.188 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengaitkan penguatan rupiah ini dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate. Kenaikan tersebut sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,50 persen pada hari yang sama.
Menurut Ibrahim, kenaikan suku bunga ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Hal ini dilakukan untuk meredam dampak dari gejolak global yang tinggi, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Selain itu, langkah ini juga bersifat preventif untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran target yang ditetapkan pemerintah, yaitu 2,5±1 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam sebuah pernyataan mengonfirmasi bahwa kenaikan suku bunga acuan ini bertujuan untuk meningkatkan imbal hasil. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan daya tarik bagi masuknya aliran investasi portofolio asing ke Indonesia.
Perry Warjiyo juga menambahkan bahwa hasil evaluasi sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan pada 19-20 Mei 2026 menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang lebih dari perkiraan.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini tidak hanya disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah adanya aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia memandang perlu untuk mengambil langkah-langkah lanjutan. Tujuannya adalah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Hal ini akan dilakukan dengan cara meningkatkan kembali imbal hasil dan memberikan berbagai insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Sentimen pasar global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh konflik antara Iran dan rezim Zionis Israel. Meskipun kedua belah pihak telah menghentikan serangan, Iran menyatakan akan melanjutkan serangan jika Israel terus menyerang Hizbullah di Lebanon.
Surat kabar Israeli Hayom melaporkan bahwa Tel Aviv dan Washington telah menyampaikan pesan kepada Teheran. Pesan tersebut menyatakan bahwa tidak akan ada serangan lanjutan dari Israel jika Iran tidak melanjutkan serangan.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan tren penguatan. Pada hari ini, JISDOR bergerak ke level Rp 18.141 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya di Rp 18.171 per dolar AS.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah pada Selasa, 9 Juni 2026, menunjukkan adanya respons positif pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia dan dinamika global.






