DermayuMagz.com – Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, kemungkinan besar akan kembali menaikkan suku bunga acuannya. Proyeksi ini didasarkan pada indikasi inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa meskipun sempat terjadi sedikit mereda, ketegangan global akibat konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama. Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada 14 Juni 2026 belum sepenuhnya menghilangkan potensi gejolak.
Situasi global yang tidak pasti ini diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 di kisaran 3 persen. Bersamaan dengan itu, tekanan inflasi global diprediksi akan meningkat ke angka sekitar 4,4 persen. Kondisi ini mendorong banyak bank sentral di berbagai negara untuk mulai menaikkan suku bunga kebijakan mereka.
“Suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (Fed Funds Rate) yang tadi malam dipertahankan di level 3,75 persen, ke depan terdapat kemungkinan akan naik seiring prospek inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat,” jelas Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Kamis, 18 Juni 2026.
Indikasi potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed juga terlihat dari imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang masih bertengger di level tinggi. Pada 17 Juni 2026, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,49 persen, sementara tenor 2 tahun berada di angka 4,18 persen.
Perry menambahkan bahwa tingginya imbal hasil obligasi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter The Fed, tetapi juga oleh peningkatan defisit fiskal Amerika Serikat yang terus membengkak.
Perlu Penguatan Kebijakan
Dalam menghadapi dinamika ekonomi global ini, Perry juga menyoroti penguatan nilai dolar Amerika Serikat terhadap mata uang negara maju maupun berkembang. Hal ini menyebabkan investor global masih cenderung menahan diri untuk berinvestasi di pasar negara berkembang (emerging market).
Investor global masih lebih memilih aset yang dianggap aman (safe haven), terutama yang berdenominasi dolar AS dan berbasis di negara maju. Hal ini menunjukkan adanya preferensi terhadap stabilitas di tengah ketidakpastian.
“Ke depan, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis,” ungkap Perry.
Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan yang tinggi serta penguatan respons dan sinergi kebijakan dari sisi fiskal maupun moneter. Langkah-langkah ini sangat penting untuk menjaga ketahanan eksternal, stabilitas ekonomi, dan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia.
BI Rate Naik
Menyikapi berbagai tantangan dan ketidakpastian global tersebut, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan ini membawa BI Rate ke level 5,75 persen, yang ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Juni 2026.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen,” ujar Perry.
Selain suku bunga acuan, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen. Suku bunga Lending Facility juga mengalami kenaikan sebesar 25 bps menjadi 6,50 persen.
Perry menegaskan bahwa keputusan menaikkan suku bunga acuan ini merupakan langkah lanjutan yang diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan ini penting di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Lebih lanjut, kenaikan suku bunga ini juga merupakan langkah pre-emptive atau antisipatif. Tujuannya adalah untuk menjaga inflasi agar tetap berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, baik untuk tahun 2026 maupun 2027.






