DermayuMagz.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (21 Mei 2026). Mata uang garuda tercatat melemah 13 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah ditutup pada posisi Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan pelemahan 13 poin dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp 17.653 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor global yang kompleks. Kombinasi dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap hati-hati bank sentral Amerika Serikat terhadap inflasi menjadi penyebab utamanya.
Perkembangan terkini terkait konflik di Iran, serta ekspektasi yang meningkat mengenai suku bunga tinggi di Amerika Serikat, membuat para investor cenderung menghindari aset yang berisiko. Sebagai gantinya, mereka lebih memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.
Ibrahim menambahkan bahwa pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai perang di Iran turut memberikan tekanan pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pernyataan Trump yang menyebut konflik tersebut berada pada “tahap akhir” setelah proses pembicaraan yang berjalan baik, namun ia juga tidak menutup kemungkinan aksi militer yang lebih besar jika kesepakatan tidak tercapai.
Tekanan terhadap pasar juga diperparah oleh langkah Iran yang memperketat kontrol terhadap Selat Hormuz. Pemerintah Iran mengumumkan pembentukan “Otoritas Selat Teluk Persia” untuk mengawasi kawasan tersebut, sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel yang memicu perang pada 28 Februari.
Meskipun sebagian besar pertempuran telah berhenti sejak gencatan senjata pada bulan April, Iran membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Amerika Serikat melakukan blokade terhadap garis pantai Iran.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang penipisan pasokan komersial dan strategis. Hilangnya pasokan dari wilayah Timur Tengah yang krusial akibat konflik memaksa negara-negara untuk segera menarik persediaan mereka.
Selain faktor geopolitik, pasar juga memberikan perhatian besar pada hasil risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Amerika Serikat yang dirilis pada Rabu waktu setempat. Dokumen tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat The Fed masih melihat adanya risiko inflasi yang tinggi.
Hal ini membuka peluang untuk kenaikan suku bunga apabila tekanan harga tidak kunjung kembali menuju target 2%. Risalah FOMC tersebut juga mengungkapkan kekhawatiran para pejabat The Fed terhadap dampak inflasi yang ditimbulkan oleh konflik Iran dan lonjakan harga energi global.
Pada rapat FOMC bulan April lalu, Komite memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal tetap stabil dalam kisaran 3,5% hingga 3,75%. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi yang ada.
Melemahnya rupiah ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar dan pemerintah. Stabilitas nilai tukar mata uang merupakan salah satu indikator penting kesehatan ekonomi suatu negara. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global.
Pergerakan rupiah akan terus dipantau seiring dengan perkembangan situasi global, terutama terkait konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Investor dan analis akan mencermati data-data ekonomi terbaru dari kedua belah pihak untuk memprediksi arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Baca juga : Penghentian Sementara Bus Shalawat di Makkah Menjelang Puncak Haji
Diharapkan, langkah-langkah antisipatif dari pemerintah dan Bank Indonesia dapat memitigasi dampak negatif pelemahan rupiah terhadap perekonomian nasional. Kestabilan nilai tukar yang terjaga akan memberikan kepastian bagi iklim investasi dan perdagangan di Indonesia.






