DermayuMagz.com – Di tengah fluktuasi pasar global, Bank Sentral China kembali menunjukkan strateginya dalam mengelola cadangan devisa dengan menambah kepemilikan emasnya. Langkah ini sejalan dengan prediksi para analis dan menandai komitmen berkelanjutan Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) untuk diversifikasi asetnya.
Bulan lalu, PBOC dilaporkan berhasil mengakuisisi 15 ton emas, menjadikannya pembelian bulanan terbesar sepanjang tahun ini. Ini merupakan bulan ke-20 berturut-turut bagi bank sentral Tiongkok dalam upaya memperbesar cadangan emas resminya.
Menurut data terbaru yang dirilis, total kepemilikan emas Tiongkok kini telah bertambah lebih dari 40 ton sepanjang tahun 2026. Dengan penambahan ini, cadangan emas resmi negara tirai bambu tersebut kini mencapai angka signifikan 2.346 ton.
Peningkatan aktivitas pembelian emas oleh Tiongkok ini terjadi di saat pasar emas global tengah mengalami koreksi. Harga emas sempat menyentuh level terendah di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, bahkan sempat menembus batas US$ 4.000 per ons.
Meskipun demikian, para analis memandang bahwa penurunan harga ini justru menjadi momentum bagi bank sentral untuk melakukan ekspansi cadangan. Harga emas yang relatif lebih rendah memberikan peluang strategis bagi institusi seperti PBOC untuk memperkuat posisinya di pasar logam mulia.
“Bank sentral tentu akan membeli dan mungkin membeli lebih banyak sekarang karena harga telah mereda,” ujar Nitesh Shah, Head of Commodities and Macroeconomic WisdomTree, kepada Kitco News. Pernyataannya menggarisbawahi peran penting permintaan dari sektor perbankan sentral dalam menopang stabilitas harga emas.
Tiongkok memang bukan satu-satunya bank sentral yang aktif menambah cadangan emas. Bank Sentral Uzbekistan juga tercatat sebagai salah satu pembeli aktif. Pada bulan Juni lalu, mereka menambah 9 ton emas, menjadikan total pembelian bersih tahun ini mencapai 41 ton, menempatkannya sebagai pembeli terbesar kedua di antara negara-negara yang datanya tersedia.
Pergerakan bank sentral dalam menambah cadangan emas bukanlah fenomena baru. Secara historis, emas telah lama dianggap sebagai aset safe haven yang andal, terutama di saat ketidakpastian ekonomi global meningkat. Kepemilikan emas memberikan diversifikasi portofolio yang efektif dan berfungsi sebagai penyangga terhadap volatilitas mata uang fiat.
Permintaan emas dari bank sentral memang menunjukkan tren yang berfluktuasi. Dalam beberapa periode terakhir, beberapa negara terpaksa memonetisasi cadangan emas mereka untuk menopang mata uang nasional atau mengatasi krisis energi yang dipicu oleh gejolak geopolitik. Namun, seiring dengan meredanya tekanan tersebut, para analis memprediksi permintaan dari sektor resmi ini akan kembali menguat di paruh kedua tahun 2026.
Faktor utama yang mendorong bank sentral untuk terus membeli emas adalah tema de-dolarisasi jangka panjang. Seiring dengan pergeseran kekuatan ekonomi global, banyak negara mulai mencari alternatif selain dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan utama. Emas, dengan sifatnya yang independen dari kebijakan moneter satu negara, menawarkan stabilitas dan nilai yang tahan lama.
“Ada tema de-dolarisasi jangka panjang yang bersifat struktural, dan saya pikir itu akan terus berlanjut,” ungkap Jerry Prior, Chief Operating Officer dan Senior Portfolio Manager di KraneShares Mount Lucas Managed Futures Index Strategy ETF. Ia menambahkan, ketika negara-negara produsen minyak mulai mendapatkan kembali pendapatan, modal tersebut tidak selalu diarahkan ke pasar obligasi pemerintah, melainkan juga kembali mengalir ke pasar emas.
Keputusan Tiongkok untuk terus mengakumulasi emas juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi ekonomi makro yang lebih luas. Dengan memperkuat cadangan emas, Tiongkok berupaya meningkatkan kredibilitas mata uangnya, Yuan, di kancah internasional dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang didominasi oleh dolar AS.
Proses ini merupakan bagian dari upaya Tiongkok untuk memposisikan dirinya sebagai kekuatan ekonomi global yang semakin mandiri dan berpengaruh. Penambahan cadangan emas ini bukan sekadar transaksi finansial, melainkan juga merupakan langkah strategis dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan stabil di masa depan.
Di sisi lain, penting untuk dicatat bahwa bank sentral lainnya, seperti Bank Nasional Polandia, juga terus menunjukkan komitmen serupa. Meskipun data terbaru mereka belum dirilis, bank sentral Polandia telah memimpin dalam daftar pembeli resmi, dengan peningkatan 64 ton emas hingga Mei 2026. Hal ini mengindikasikan tren global yang positif terhadap kepemilikan emas oleh bank sentral.
Dengan terus berlanjutnya permintaan dari sektor perbankan sentral, emas diprediksi akan tetap menjadi aset yang menarik dan relevan dalam portofolio investasi global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang masih membayangi.






