Nilai Tukar Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura terhadap Rupiah

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda bahkan telah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Mengutip data Google Finance pada Kamis, 4 Juni 2026, pukul 10.12 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 18.019 per dolar AS. Posisi ini menandai salah satu titik terlemah rupiah dalam periode terakhir.

Dalam lima hari terakhir, rupiah dilaporkan melemah sebesar 1,19 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, pelemahan secara year to date atau sejak awal tahun telah mencapai 8,16 persen.

Namun, tren pergerakan rupiah terhadap mata uang lain menunjukkan gambaran yang berbeda. Mata uang Garuda tercatat menguat terhadap ringgit Malaysia.

Kurs ringgit Malaysia dilaporkan turun 0,38 persen menjadi Rp 4.491,23 per ringgit, yang berarti terjadi penurunan nilai sebesar 17,05 poin.

Penguatan yang lebih tipis juga terlihat terhadap dolar Singapura. Kurs dolar Singapura mengalami penurunan 0,01 persen, sehingga berada di level Rp 14.011,08.

Sementara itu, pergerakan rupiah terhadap dolar Australia cenderung stabil. Kurs dolar Australia berada di posisi Rp 12.853,63, menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,00 persen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.

Pada hari yang sama, nilai tukar rupiah masih menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Analis memprediksi dolar AS akan bergerak di kisaran Rp 17.960 hingga Rp 18.030.

Berdasarkan data Google Finance, dolar AS terhadap rupiah telah menyentuh angka 18.000. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 18.010, dan saat ini terpantau di kisaran 18.001. Kenaikan dolar AS terhadap rupiah tercatat sekitar 0,76 persen.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, rupiah melemah 127,5 poin atau 0,71 persen, ditutup pada posisi 17.966 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang mendekati angka 18.000 per dolar AS dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari sisi global, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.

“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim, mengutip Antara.

Ia menambahkan, laporan media Iran yang menyebut tidak adanya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir menimbulkan spekulasi bahwa perundingan mengalami kebuntuan.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak global memicu kekhawatiran terhadap inflasi internasional. Hal ini juga mendorong spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Data yang dirilis pada Selasa, 2 Juni 2026, menunjukkan adanya peningkatan tak terduga dalam jumlah lowongan kerja di AS pada bulan April 2026. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap sikap kebijakan moneter The Fed yang tetap ketat.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting dari AS. Data tersebut, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik, akan menjadi indikator arah kebijakan The Fed menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat, 5 Juni 2026.

Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen terhadap rupiah memburuk. Hal ini terjadi setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), yang lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang tercatat sebesar 0,13 persen.

Pada Kamis, 4 Juni 2026, Ibrahim memprediksi bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang 17.960 hingga 18.030 per dolar AS.